Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Rabu, 18 Februari 2015

Bertahan Melewati Waktu

               No comments   
Scene Video Iklan Thailand
Sumber : google.com
Hallo kawula muda... Apa kabarnya..? Lagi-lagi kali ini gue mau posting sekedar ceritaan saja. Semoga ada yang bisa dipetik dari blog gue, inget blognya bukan tulisannya.

Siapa yang bisa ngira, seorang anak yang mencuri obat untuk ibunya bisa menjadi seorang dokter. Kawula muda tahu gambar apa yang ada di postingan ini.? Ya.. itu adalah scane-scane iklan yang menyentuh dari Thailand. Pasti kalian pernah nonton kan. Kalau belum kalian bisa liat videonya diakhir postingan ini.

Ada hal apa dari iklan Thailand tersebut..? Oke...Gue akan sedikit mendeskripsikan salah satu iklan Thailand yang menyentuh ini. Dikisahkan ada seorang anak yang mencuri di toko obat. Anak tersebut mencuri obat untuk ibunya yang sakit, aksi dia mencuri ketahuan oleh pemilik toko. Anak tersebut lalu dimarahin oleh pemilik toko. Anak yang mencuri tersebut menjelaskan bahwa obat itu untuk ibunya yang sedang sakit.

Lalu ada bapak-bapak penjual sup sayuran di sebelah toko obat tersebut. Bapak penjual sup itu melihat kejadian tersebut, dan memastikan kepada anak yang mencuri itu bahwa, apakah benar ibunya sedang sakit.? Anak itu hanya menganggukan kepalanya, dan bapak penjual sup itu membayar obat tersebut dan diberikannya  kepada anak. Bapak penjual sup itu tidak hanya membayarkan obat, tapi ia juga memanggil putrinya untuk membawakan sup dan memberikan sup jualannya kepada anak pencuri tersebut. Dan mungkin karena anak itu malu, ia menerima semua pemberian bapak penjual sup, lalu pergi lari.

Singkat cerita 30 tahun telah berlalu. Kehidupan bapak penjual sup  tetap sama masih menjadi penjual sup. Ternyata bapak penjual sup masih suka berderma kepada kaum yang tidak mampu, dia masih suka berderma dengan dagangan supnya. Dan tiba saatnya bapak penjual sup mulai kelelahan, ia pun terjatuh saat membuat sup untuk pelanggannya. Ia terjatuh pingsan dan kepalanya terbentur meja. Dengan segera putrinya membawa bapaknya ke rumah sakit. Anaknya pun mendapatkan tagihan perawatan ayahnya yang masih dirawat. Biaya perawatan ayahnya tersebut sangatlah besar. putrinya sedih, ia bingung harus membayar dengan apa. Dalam kesedihan putrinya tertidur disamping kasur ayahnya.

Tiba-tiba putri bapak penjual sup itu terkesima, ia mendapatkan surat tagihan, bahwa biaya perawatan ayahnya telah terlunasi. Dalam suratnya dikatakan, biaya perawatan ayahnya telah terlunasi sejak 30 tahun yang lalu dengan bayaran obat warung dan semangkuk sup hangat. Dia segera teringat peristiwa beberapa tahun lalu. Ternyata dokter yang merawat bapaknya itu adalah anak kecil yang ia belikan obat untuk ibunya.

Bila dicermati mungkin kalian akan menemukan banyak makna dari iklan tersebut. Memang benar mungkin peristiwa dalam iklan itu hanya sebuah fiktif. Tapi kalian tahu dalam kisah yang ada pada iklan tersebut menggambarkan bahwa di dalam kehidupan kita mengenal suka, duka, bahagia, dan pedih akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan. Ketika kita dalam keadaan yang sukacita dan bahagia, boleh jadi kita merasa nyaman dan senang. Terkadang kita ingin cerita kesana kesini tentang kebahagiaan kita kepada orang banyak . Dan berharap orang-orang memujinya lalu kita bertambah bangga, senang. Namun hati-hati saat kita bercerita, jangan sampai salah orang. Bisa jadi kita menceritakan kebahagiaan kita kepada orang yang sedang merasakan duka dan pedih. Itu normal, tapi jangan lupa perhatikan orang lain juga. Dengar dan bantu dengan nyata mereka yang sedang merasakan duka, pedih.

Hal yang serupa juga saat kita dalam keadaan duka dan pedih. Kita pun terkadang ingin banyak bercerita tentang duka dan pedih kepada orang banyak. Berharap mendapatkan permakluman dari orang-orang, mengemis tapi tidak minta dikasihani. Panjatan doa pun terus dilontarkan agar duka dan pedih ini berkesudahan. Dan tak jarang saat duka mungkin kita akan mendapatkan nasihat dari sekitar, dengan mudah mereka menasihati tapi mungkin mereka tidak sepenuhnya merasakan susah kita. Lalu bagaimana keluar dari persoalan yang menimpa, bertahanlah melewati waktu. Bertahan melewati waktu, bukan berarti kita harus diam saja membiarkan waktu menyelesaikan duka dan pedih kita.

Tapi kita harus bertahan melewati waktu dengan jalan ulet, tegar, dan mampu bertarung untuk melewati masa kelam.1 Kembali lagi ke iklan, di sini gue coba untuk menyoroti anak kecil yang mencuri obat karena ibunya sakit. Padahal dari tadi narasinya tentang bapak penjual sup. Dari iklan tersebut anak kecil laki-laki itu dengan berani ia mencuri obat untuk ibunya yang sakit. Namun setelah 30 tahun lamanya anak kecil itu berhasil menjadi seorang dokter. Ia berhasil bertahan melewati waktu, ia tidak membiarkan waktu menyelesaikan dukanya. Ia isi waktunya untuk tetap tegar dan ulet menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebenarnya yang sangat nampak dari iklan tersebut adalah nilai kedermawanan seorang penjual sup, mungin jika dibahas hal tersebut nampaknya pembaca dan penonton sudah paham betul. Karena makna iklannya mungkin sudah tersampaikan dengan jelas nilai dari kedermawanan. Tapi ini sedikit berbeda yang perlu disoroti adalah bahwa suka, duka, bahagia, dan pedih itu akan menjadi bagian dalam kehidupan. Dibutuhkan ketabahan, ulat, dan tegar dalam melewati waktunya. Karena semua pasti ada masanya, yang duka pasti akan ada sukanya, yang pedih pasti ada bahagianya. Untuk kalian yang sedang suka maupun duka jangan terlalu over. Karena suka dan duka tersebut akan silih berganti, waktu dalam hidup kalian tidak akan berhenti.

Untuk kalian yang ingin lihat iklannya, silahkan ditonton video di bawah ini :


Sumber : 1. Menjaga Api by : Agung Adiprasetyo

0 komentar:

Posting Komentar