Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Kamis, 12 Maret 2015

Nona Tiongkok

Oh... Nona Tiongkok
Nona Tiongkok
"Masyarakat... Dalemannya warna pink. Gag Shangggup... #RejekiAnakSoleh." Ucap gue dalam hati.
Itulah yang gue katakan dalam hati ketika melihat salah satu surga dunianya kaum Adam. Yang gue lihat adalah celana dalem cewe cantik plus pahanya yang mulus. Beuh... gag shanggup dah... Sory ini bukan cerita cabul. Gue inget paras wajahnya itu kaya orang Tiongkok, atau Korea gitu. Sampe sekarang gue masih inget wajahnya. Iya wajahnya bukan dalemannya. Lagi pula gue lihat deleman itu cewe kejadiannya sangat singkat. Serius.. Namanya juga rejeki anak soleh.

Kejadiannya itu saat gue pulang dari kampus di hari Selasa. Semua berjalan seperti biasa, cuman saat itu kondisi gue emang belom membaik seluruhnya. Pasca gue sembuh dari sakit bawaannya gue pengen diem aja, meles gerak. Tapi gue coba paksa diri gue supaya ke kampus, itung-itung gerakin badan, ketemu temen" dan nyari angin. Sore itu gue mulai naik ke Transjakarta arah Dukuh Atas. Dan gue pun dapat tempat duduk. Kondisi Transjakarta sore itu tidak terlalu sepi dan tidak terlalu rame. Semua kursi sudah terisi di dalam Transjakarta, dan tidak ada yang berdiri atau gantung.

Gue duduk di kursi deretan sebelah kiri tiga kursi dari belakang. Samping kanan gue perempuan berjilbab, dan samping kiri gue laki-laki seusia gue. Entah di transit mana cewe Tiongkok itu masuk naik Transjakarta, dia duduk di kursi depan Gue. Sebut saja dia nona. Nona ini duduk sambil memangku tas di pahanya. Gue liat nona itu biasa aj sih.. karena gue lebih tertarik sama perempuan Indonesia.

Sejauh ini sih aman tidak ada hal yang menguntungkan dan merugikan. Transit demi transit terlewati, Transjakarta pun masih tidak terlalu ramai. Sampai akhirnya, gue inget di transit Matraman nona itu merubah posisi duduknya. Dan yang gue lihat malah celah lorong di roknya. Dan beuh... gue liat dalemannya bersinar dengan warna merah muda dan pahanya juga yang putih mulus. Pasti kalo ada lalat yang nempel di paha mulusnya langsung kepeleset tu lalat. Karena kejadian itu, spontan gue langsung terpana cukup lama melihat ke dalam sambil menyeka hidung gue karena takut keluar darah.

Hah... gue pun binggung.. Selama perjalanan dari transit Matraman ke transit berikutnya nona Tiongkok itu masih mempertahankan posisi duduknya yang kebuka. Orang-orang di samping gue tidak mengingatkan nona itu, apa cuma gue yang lihat. Perempuan di samping kanan gue emang lagi sibuk main hp. Dan cowo di samping kiri gue, kayanya sih dia lihat, tapi lagi pura-pura merem aja. Akhirnya gue merasakan tekanan, antara nolak atau lihat lagi. Aduh... pusing pala barbie.... Entah nona ini sengaja atau tidak, tapi rasanya gue mau kasih tau kalo itunya kelihatan. Dan akhirnya nona itu udah keburu turun di transit selanjutnya. Sempet kecewa sih gue. Kecewa karena gag berani bilang. Iya.. bukan kecewa karena gag lihat itunya lagi. serius..

Coba kalo gue bilang. Pasti ending nya gag hambar. Minimal paling kalo gue bilang ke nona itu, gue kena gampar, terus nona Tiongkok itu jadi malu. Atau nona itu jadi suka sama gue dan jatuh cinta sama gue, #ngarep karena nona itu merasa dirinya dihormati.Tapi nasi sudah jadi bubur. Dari situ gue belajar, hidup ini harus berani. Iya walaupun gue baru sadar dalam ikrar, siapa tau nanti bisa ikhtiar. Hidup ini harus berani, berani melakukan dan konsisten dalam tindakan yang positif. Tindakan positif yang kita percayai bahwa itu adalah suatu kebaikan. Bukankah dari dulu sudah tahu, bahwa kebaikan itu akan ada buah atau balasannya toh. Kalo diem-diem aja, cuek, bisa hilang dah tuh buahnya diambil orang.


Huft... sudahlah... ternyata kalo diingat-ingat nona Tiongkok itu ternyata cantik juga parasnya. Iya parasnya bukan dalemannya.
 
Kalo lu dapat rejeki kaya gini apa yang bakal lu lakuin..? jawab aja di kolom komentar...

2 komentar:

  1. Iman lu kurang, jdi lo ragu antara nerusin atau nyetopin, tapi DLM situasi yg sama, gue jga akan melakukan hal yg sama #hehe #rejekianaksholeh #jarang2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... iya dan mungkin iman gue masih kurang. tapi yang jelas iman gue jauh lebih kokoh dari emen gue. wkwkwkwkw...

      Hapus