Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sabtu, 11 April 2015

Doa untuk Saudara

               2 comments   
Doa untuk Saudara
Doa untuk Saudara

Ada sebuah kapal yang karam mendarat di pulau terpencil. Kapal itu adalah kapal rombongan muda-mudi yang hendak ingin berlibur. Namun sayang kapal itu telah diterjang badai yang tiba-tiba datang. Dari rombongan muda-mudi yang selamat hanyalah dua orang pemuda yang terdampar di pulai kecil tersebut. Mereka berdua bersepakat untuk membagi dua wilayah pulau. Sebut saja nama mereka adalah merah dan putih.

Penghidupan di pulau itu cukuplah sulit. Pulau itu jauh dari keramaian, tepat berada di tengah-tengah laut. Mereka dapat bertahan hidup dari sumber alam yang ada di sana. Dari dua pohon kelapa yang ada di sana. Mereka sadar bahwa mereka bisa selamat jika ada izin Tuhan. Akhirnya mereka berdua tiap pagi dan malam selalu memanjatkan doa kepada Tuhanya. Mereka ingin tahu doa siapa yang kelak akan dikabulkan dan didengarkan oleh Tuhan.

Minggu pertama merah dan putih berdoa ingin mendapatkan makanan yang lebih banyak. Doa merah ditepenuhi, seketika dari langit turunlah makanan yang lezat nan mewah. Sementara putih belum mendapatkan apa-apa. Dengan nikmat merah menyantap semua makanan itu dengan lahapnya. Pada minggu berikutnya mulai merasakan kesepian. Lalu masing-masing dari mereka berdoa meminta untuk diberikan kekasih. Dan lagi Tuhan mendengar pinta mereka, lalu memberikan seorang wanita kepada merah sebagai pasangan hidupnya. Sementara putih masih tetaplah kesepian.

Akhirnya merah mulai percaya diri bahwa doanya selalu dikabulkan. Merahpun mulai berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk diberikan kapal pulang. Merah ingin pulang bersama kekasihnya. Dengan cepat Tuhan memberikan sebuah kapal. Lalu merah bergegas pulang bersama kekasihnya, merah tidak mengajak temanya si putih dan berniat meninggalkan putih yang ada di sisi pulau lain. Merah beranggapan bahwa putih memang tidak pantas menerima pemberian Tuhan, sebab belum ada doa-doa putih yang terlhat dikabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, tiba-tiba merah mendengar suara ghaib dari langit.

“Mengapa kau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini.?”

Merahpun kaget, ia mencoba menjawab.
“Ini adalah berkahku, maka hanya aku saja yang boleh menikmatinya. Sebab hanya doaku saja yang dikabulkan”

“Kau salah. Sungguh sombong sekali kau. Sesungguhnya doa rekanmu yang dikabulkan. Rekanmu pinta agar semua doamu dikabulkan.”

Merah seketika sadar, ia enggan untuk berterima kasih dan matanya seakan tertutup untuk melihat sekitar. Tapi kini ia seolah disadarkan bahwa kesuksesannya bukan karena usaha dan doanya sendiri. Bisa saja ada peran orang lain yang juga turut berkorban dalam suksesnya. Peran orang-orang yang telah berkorban inilah yang terdakang suka dilupakan.

Atas teguran itu merah menjemput putih dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya merah dan kekasihnya serta putih pulang bersama. Dalam perjalanan merah memohon maaf atas kesombongannya. Tamat. []

2 komentar:

  1. ceritanya mencerahkan mas,intinya kita jangan sombong ya,karena bisa jadi kesuksesan yang kita raih dibantu oleh peranan orang lain yang ikut mendoakan atau berusaha tanpa ada yang mengetahuinya selain allah.

    BalasHapus