Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sabtu, 25 April 2015

Ketidakmungkinan yang Disemogakan

               18 comments   

“Zay besok kamu ada di rumah kan? Aku ingin main kerumah kamu” sebuah pesan singkat dari Hayati.

Hayati ialah gadis kembang desa di bojong kenyot. Sudah banyak pemuda yang terpincut akan kecantikannya. Wajahnya yang ayu berbentuk oval sempurna seperti telur ayam, dipadu dengan mata yang bersinar indah bagaikan mutiara yang dijaga dengan baik. Cukuplah baginya hanya dengan kerlipan mata mampu meluluhkan hati pemuda dalam sekali pandang.

Saat itu Hayati baru saja putus dari kekasihnya. Tidak ingin larut dalam kesedihan ia ingin berkunjung dan bercerita kepada temannya, berharap Hayati bisa melupakan kekasihnya dengan bercerita kepada temannya. Tepat malam hari pukul 21:00 WIB, Hayati mengirim pesan singkat dalam SMS kepada Zay. Dalam pesannya Hayati menanyakan apakah Zay besok ada di rumah. Dan ia ingin pergi bermain ke rumah Zay. Dengan cepat Zay membalas SMS Hayati. 

"Iya tentu aku ada di rumah. Ada apa?"

SMS dari Hayati membuat hati Zay menjadi senang. Sebab ini merupakan sebuah peristiwa yang jarang terjadi. Karena lebih sering yang memulai SMS adalah Zay kepada Hayati. Namun SMS Zay jarang sekali dibalas oleh Hayati, dan terkadang dihiraukan oleh Hayati. Usut boleh usut ternyata Zay menyimpan rasa kepada Hayati. Sempat Zay menyatakan cintanya kepada Hayati di depan kelas, tetapi cinta Zay ditolak. Hayati lebih memilih orang lain yang kini telah menjadi mantannya.

Lagi balasan SMS Zay tidak dibalas oleh Hayati. Dengan penuh harap Zay menunggu akan datangnya balasan SMS dari Hayati. Sudah 15 menit berlalu, Zay mulai geram menunggu. Akhirnya Zay pergi ke dalam kamar dan bersiap-siap untuk tidur.

Pekikan ayam mulai terdengar, Zay mulai terbangun ternyata hari sudah menjelang pagi. Zay teringat akan SMS semalam, selepas bangun dari tidurnya ia mulai mandi dan mempersiapkan pakaian terbaiknya untuk menyambut kedatangan Hayati di rumahnya. Layaknya kedatangan tamu kehormatan, Zay lalu berdandan dengan sangat rapi dan wangi. Konon katanya wanita juga suka dan tertarik dengan pria yang wangi. Tidak hanya dandan merapihkan diri, Zay juga membereskan kamarnya, ruang tamu dan ruang keluarga rumahnya.

Setelah selesai dengan bebenahnya, Zay mulai menunggu Hayati di ruang tamu rumahnya. Sesekali ia melihat jam tangan dan mengecek layar handphone-nya. Diruang tamu Zay hanya ditemani oleh dua cicak yang saling berdecak di langit-langit ruangan. Entah apa yang dibicarakan dua cicak itu, namun seolah cicak cicak itu sedang asyik bergunjing membicarakan Zay.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 WIB, sudah hampir dua jam Zay menunggu di ruang tamu rumahnya. Karena bosan ia mulai memainkan hanphonenya, ia tidak berani untuk memulai SMS ke Hayati. Zay pun hanya menggulung layar handphone dengan sangat jauh dan membaca pesan-pesan terdahulunya untuk Hayati. Zay mulai tertawa kecil dan membayangkan masa-masa waktu dekat dengan Hayati. Tiba-tiba tangan Zay bergetar, ternyata ada SMS masuk dari Hayati.
"Maaf Zay  aku tidak jadi datang ke rumahmu. Badanku tiba-tiba tidak enak badan."

Membaca SMS tersebut Zay sedikit kecewa, ia hanya bisa menghela nafas mencoba untuk mengikhlaskan janji yang telah batal. "Ok... GWS ya." balas Zay dalam SMSnya. 

Mencoba melupakan Zay pun merebahkan badannya di atas sofa. Ia melihat langit-langit ruangan dan menemukan dua cicak yang sejak tadi memperhatikannya. Zay pun bangkit kembali dan meraih handphonenya yang berada di saku celana. Namun lagi ia mengurungkan niatnya untuk SMS Hayati. "Dia kan lagi sakit, tidak jadi dah nanti mengganggu istirahatnya."

Dalam batin Zay, ia seolah melantunkan doa untuk Hayati. Semoga Hayati cepat sehat kembali.
"Zay Zay, padahal ini kesempatan untuk mendapatkan Hayati. Kenapa nyali lu ciut. Samperin kek ke rumahnya. PDKT-an lagi kek. Payah kau ini Zay. Apa mungkin ini yang namanya bagai pungguk merindukan bulan" Ucap Zay kepada dirinya sendiri. []

18 komentar:

  1. Dikirain gue endingnya. Si Fatimahnya. Meninggal dunia. Eh ternyata cuman sakit doang. Keren bro. Ceritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah.. sembarangan..
      Kalo dibikin tokoh Fatimahnya meninggal tokoh Udinnya nnti protes ke gue. Tokoh Udin bisa-bisa menyeret gue ke pengadilan :p

      Hapus
  2. Balasan
    1. yah.. komennya aduh doang :(

      Hapus
    2. Gue takut bang kalo komen yg kgak2, soalnya udin bapak gue wkwk

      Hapus
    3. waduh... skarang gue yang mengaduh.. Titip maaf buat bapak ya. :p

      Hapus
  3. Duh Udin.. Udin.. mentalnya tempe.

    *Ke (spasi) rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Parah".. masa aku dibilang mental tempe. Eh.. maksud ku Udin. Ah sudahlah...
      kapan nih kombun kumpul lagi.. :(

      Hapus
  4. Wih, lu jagonya buat cerpen bro. Seringi ikut lomba cerpen aja, biar makin terlatih. Nice!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... terima kasih
      maaf ya awardnya blm gw balas.

      Hapus
  5. Udin harus berani PDKT sama Fatimah dongs.. Mana Fatimah tau kalok Udin sebenarnya sukak sama Fatimah.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin Udin sudah lelah, sebab ia pernah ditolak :p

      Hapus
  6. Ditolak sekali doang nyerah. Udin cemen! Gue pernah ditolak dua kali tetep usaha. #MalahCurhat

    Huwahaha, ada kelanjutannya lagi nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lu ditolak apa dulu nih? ditolak ngelamar jadi pembantu? :p
      hahahah, hmm kelanjutan cerita ya.. blm terpikirkan nih.. tapi mungkin bisa dicoba.. hehehe

      Hapus
  7. yah endingnya tak sesaui harapan si udin,fatimah malah sakit,hemz ya sudahlah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iy.. kan nyebelin udah janji malah gag jadi datng :p

      Hapus
  8. Simple... Agak agak keren gimana gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha terima kasih. Orangnya keren gag?

      Hapus