Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sabtu, 11 April 2015

Salamku Untukmu

          ,      8 comments   

Salamku Untukmu
Salamku Untukmu (sumber gambar)

Hari ini aku harus menemuimu. Sejak kemarin aku memikirkanmu. Mungkin ini adalah sebuah rasa rindu. Aku tahu seharusnya rindu ini tidak boleh ada lagi, karena untuk saat ini rinduku ini adalah sebuah penyakit. Tapi aku masih belum bisa melupakan cintaku, inilah penyakitku, aku rindu sebab aku belum bisa move on

Tapi aku tetap putuskan untuk menyempatkan waktu agar bisa bertemu denganmu. Aku pun mulai berjalan menyusuri jalan sepanjang trotoar ini. Aku memang lelaki lemah. Dalam perjalananan aku teringat dirimu. Aku masih ingat senyummu, tatapan matamu, dan tawa canda saat bersamamu. Aku masih belum bisa melupakan kenangan indah itu semuanya.

Sepanjang jalan aku mengingat-ingat kembali kisah kita. Memaksa otakku untuk menarik dan memanggil kenangan itu dari ingatan. Kenangan saat kita bermain bersama di taman dekat sekolah, kenangan saat aku bertemu dengan keluargamu. Aku sangat canggung bertemu dengan ayah, ibumu dan adik-adikmu. Kau memperkenalkanku kepada mereka seakan aku ini adalah pahlawanmu.

Kau menceritakan semua kepada keluargamu saat kita pertama bertemu. Saat aku menyatakan sayangku kepadamu. Dan sampai akhirnya kita menjalani sebuah hubungan. Hubungan yang akan meberikan lembaran kisah kebahagiaan dalam hidup kita. Dalam beberapa waktu, aku semakin sayang denganmu. Namun saat itu tiba, kau harus pergi bersama keluargamu. Aku menyakinkanmu untuk pergi bersama kelurgamu, dulu.

“Aku tidak mau pergi tanpamu Zainudin.”

“Tidak Hayati, kau harus tetap pergi, pergi agar dirimu sembuh. Maaf aku belum bisa ikut denganmu, karena masih ada pekerjaan, tapi aku janji akan mengabarkanmu dengan suratku. Jangan lupa balaslah suratku.”

Aku masih ingat dialog itu. Akupun memeluk dan mencium kening Hayati saat itu. Saat terakhir aku dan Hayati bersama. Itu adalah kenganan terakhirku. Seandainya saat itu aku ikut bersamanya. Sekarang aku hanya bisa kesal dengan diriku. Dan terkadang memaki Tuhan. Untuk apa Tuhan mempertemukan dua orang, jika akhirnya harus berpisah.

Aku terus berjalan menapaki jalan trotoar ini dengan diikuti kenangan manis dan getir bersamamu. Aku terjebak dalam ruang nostalgia kita. Aku lemah. Sejenak aku berhenti, memejamkan mataku dan menghela nafasku. Aku mencoba untuk menenangkan emosi ini. Aku buka kembali mataku. Aku lihat sekitar dan aku melihat ada penjual bunga. Teringat olehku bahwa kamu menyukai bunga. Aku coba membeli beberapa tangkai bunga, untuk hadiah nanti.

Waktu sudah mulai sore, aku bergegas berlari. Berlari ketempat kakiku ingin pergi. Seolah diri ini ingin lari juga darii memori yang sejak tadi datang dalam ingatan. Dalam batinku aku ingin bertemu denganmu Hayati. Dan sampailah kaki ini berhenti, berhenti ditempat yang tepat. Setibanya di tempatmu, sedikit aku mengusap peluh di dahiku, menghilangkan rasa lelahku.

Akhirnya aku bertemu denganmu. Meski aku hanya melihat papan namamu di atas tanah pusara.

“Hayati, aku rindu denganmu. Lihat aku membawakan bunga ini untukmu”

Aku mulai mengeluarkan bunga yang telahku beli. Aku taruh bunga itu di atas tanah yang keras dan dingin. Sambil duduk disamping tempat tidurmu, aku kirimkan sebait doa untukmu. Semoga kamu nyaman di surga. Aku sampaikan salam rindu dalam doaku.

Memang, mungkin aku belum bisa menerima kepergiaan Hayati. Aku lemah.

Usai berdoa aku berdiri dan berbalik untuk pulang. Aku berharap agar diriku tersadar bahwa ceritaku dengan Hayati  telah berakhir. Seharusnya aku sadar bahwa Hayati tidak akan kembali. Dalam rindu perlahan aku berjalan pulang meninggalkan dirinya sendiri. Aku harus sadar dan mencari yang baru. Membuat cerita cinta baru bersama Hayati yang baru.


*******
Tulisan ini dipersembahkan dalam rangka penulisan dwimingguan komunitas blogger unj edisi #April2015.

8 komentar:

  1. Hahah.. Jadi teringat cerita Kapal Van der Wijck :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. iya... abis bingung nyari nama.

      Hapus
  2. Ini cerita aslinya atau dengan fiksi, Dar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. fiksi aja mba.. soalnya gue blom punya pacar, jadi klo gue nulis cinta-cintaan itu hanya khayalan gue semata

      Hapus
  3. Kenapa zainuddin dn hayati lagi? kapan cerita mereka usai? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. cie.. jangan bilang lu kenal dengan mereka.. :p

      Hapus
  4. Kok gue jadi terharu? ????????

    BalasHapus