Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Minggu, 10 Mei 2015

Hitamnya Ibukota

               33 comments   
Ini adalah sebuah kisah perjalanan dari seorang gadis yang baru saja mendapatkan pengalaman buruk. Belum genap 1 minggu ia tinggal di Ibukota Jakarta dirinya sudah merasakan bahwa kota ini adalah kota yang penuh dengan kriminalitas. Ungkapan Ibukota lebih kejam dari ibu tiri sepertinya memang tidak terlalu berlebihan. Dan seakan pantas untuk disandangkan pada Ibukota Jakarta ini.

Hayati, gadis desa yang baru saja mendapatkan pengalaman cukup buruk di Ibukota. Ia adalah gadis desa berparas cantik. Lengkung bibirnya yang merah tipis dan sempurna terlihat anggun di wajahnya. Pipinya yang terlihat merekah saat ia tersenyum, seperti bapau membuat dirinya terlihat manis dan menggemaskan.

Sore hari dalam perjalanan pulang menaiki kereta menuju Bogor, Hayati duduk tepat di gerbong pertama area wanita. Dengan posisi duduk sedikit menyerong Hayati bisa melihat jendela kereta yang kini ada di sisi kirinya. Meskipun matanya melihat keluar jendela tapi pikiran dan raganya seolah tidak menyatu. Tatapan matanya kosong bagaikan boneka yang ditinggalkan tuannya. Ia masih terbayang peristiwa menjijikan yang baru diterimanya.

Seolah ingin melupakan, ia pun mengambil handphone dari dalam tasnya. Memberikan pesan warning kepada teman-temannya di grup Whatsapp. “Teman-teman kalau naik metromini jangan duduk di pojok dekat jendela, dan waspada sama orang-orang mencurigakan”
“Kamu diapakan Ti?”
“Tadi ada pemuda yang mencoba meraba-raba daerah vital dadaku”

Seketika grup Whatsapp menjadi ramai. Ada yang ketakutan, ada yang membagi pengalaman serupa, dan ada yang penasaran. Banyak pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada Hayati, namun ia tidak menjawabnya. Puluhan notifikasi memenuhi grup Whatsapp di handphone Hayati. Dan ada beberapa yang private message. Tapi tetap Hayati tidak menjawab pesan itu, dibuka pun tidak, ia malah mengubah profil handphonenya menjadi silent. Hayati mulai merogoh kantung celananya mencari earphone. Lalu memasangkan di handphonenya dan mendengarkan musik. Tak lama kemudian ia pun tertidur. Hayati benar-benar ingin melupakan peristiwa itu.

Hari mulai gelap, lampu penerang jalan mulai menyala meyinari jalan setapak. Sesampainya di rumah Hayati hanya mengucapkan salam lalu pergi ke kamar tidurnya. Menaruh tas di atas meja, lalu melemparkan badannya di atas kasur kapuk nan empuk. Hayati pun meraih handphonenya dan mulai membaca pesan-pesan yang sudah masuk sejak tadi. Hanya membacanya, lalu meletakkan handphone di samping kirinya dan ia pun memejamkan matanya kembali.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar Hayati. Ketukan itu membangunkan Hayati.
“Nduk kamu tidak makan malam, kamu kenapa?” tanya ibu.
“Tidak bu, tidak apa-apa. Sedang tidak nafsu makan”
Perlahan pintu kamar terbuka, dan dari daun pintu terlihat ibu masuk ke dalam.
“Loh kamu tidak ganti baju dulu, kamu kenapa? Cerita ke Ibu!”

Ibu mulai menghampiri Hayati, dan duduk di bibir kasur. Hayati mulai bangun dan duduk di atas kasur. Ia mulai terbuka dan menceritakan peristiwa buruknya tadi sore. Sedikit demi sedikit Hayati menceritakan kejadiannya secara runtut. Sang Ibu menyimaknya dengan baik.
“Ini bu tadi sore waktu aku naik metromini menuju stasiun ada seorang pria yang mecoba meraba-raba dadaku.”
“Hah” sang ibu terkejut, matanya terbelalak seakan mau lompat dari tempatnya.
“Iya bu. Waktu aku naik metromini aku duduk di bangku ketiga dari belakang. Aku duduk di sisi kiri badan mobil dan dekat dengan jendela. Keadaan metromini saat itu sedang tidak ramai bu.”
“Lalu tiba-tiba ada pria dari belakang datang dan duduk sebangku denganku. Aku di sisi kiri dekat jendela, dan pria itu di sisi kananku.” Lanjut Hayati.

Sudah hampir 20 menit Hayati bercerita tanpa henti. Mengadukan perasaan kesal yang sejak tadi ditahannya. Ibu mulai menjulurkan tangannya dan meraih kepala Hayati dan membelainya dengan lembut. Belaian Ibu terasa seperti agin yang menyapu kepalanya dan rambutnya. Terasa lembut dan sejut. Membuat hati Hayati menjadi tenang.
“Kamu kenapa tidak melawan pria itu!”
“Kamu ini gadis ibu yang polos atau bodoh sih nduk” lanjut ibu sedikit meledek.
“Aku pikir pria itu sedang mengambil sesuatu di saku baju atau celananya. Tapi lama kelamaan aku rasakan tangan itu meraba pingulku dan naik mendekati payudaraku.”
“Yasudah, sekarang kamu jadi belajar toh. Jadi lebih mawas diri. Apalagi kamu ini anak ibu yang cantik pasti banyak pria kota yang naksir kamu.”
“Ibu bisa saja menggodaku.”
“Nduk, ibu juga pernah mendengar cerita kalo di dalam bus kota itu ada demitnya.”
“Hah demit bu? Memang ada hantu yang bisa naik bus kota”
“Itu istilah orang kota, maksudnya itu suka ada pencopet di dalam bus. Dan pencopetnya bisa lebih dari 1 orang, mereka biasanya ada timnya. Kamu pokoknya harus lebih waspada lagi yah. Kalau ada laki-laki yang belum dikenal tiba-tiba ngajak ngobrol. Banyak tadarus Al-Quran, atau baca buku yang kamu bawa, atau dengerin murottal. Waspada itu penting untuk berjaga diri juga”

Hayati mulai sedikit lega setelah bercerita kepada ibunya, lalu ia mendekati ibunya duduk di bibir kasur samping ibu dan memeluk ibu.
“Terimakasih bu. Iya bu mulai sekarang aku lebih aware lagi.”
“Huh.. Badan kamu bau asem. Mandi dulu sana, terus ganti baju dan lekas tidur.”
“Biarin bau asem yang pentingkan aku cantik.” []

33 komentar:

  1. Balasan
    1. hmm... yey tau aja.. itu pria emang genit sama eike

      Hapus
  2. wa wa wa...
    Untung aku gak tinggal di Jakarta. Kan gak enak kalo dadaku diraba ama cowok-cowok~

    BalasHapus
  3. Astagfirullah bang haw ternyata doyan batangan juga. Sama dongse kayak akika.....

    Ih mau dong diraba-raba....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hih.. mas tolong bicarakan secara pribadi saja sama bang haw.
      aku gag mau ikutan raba meraba. tapi ngintip aj

      Hapus
    2. aku yang rekam yah ? :v

      Hapus
    3. Filmnya dinamai yah "siksa kubur.3gp"

      Hapus
    4. kampret.. ketauan nih yg doyan

      Hapus
    5. Apalah ini, komen diatas itu awesome bngt,yak. wkkwk

      Hapus
  4. Balasan
    1. kurasa kota" besar memang seperti itu

      Hapus
  5. Untung gue bukan tinggal di Ibu kota. Walau begitu, tetep aja sama.... Sama hitamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... emang ente tinggal di mana bang?
      boleh nih mampir :p

      Hapus
  6. Ibu memang selalu jadi yang terbaik lebih baik dari ibu kota :D

    BalasHapus
  7. Itu kalok yang ngeraba toket si orang laen ya harus marah. Trus kalok pacal? Apa harus marah jugak? Wkwkwk :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm.. ketauan ya.. sering diraba pacal ya.. :p

      Hapus
    2. Wah Beby wah. Parah wah parah. Pengalaman tuh baby

      Hapus
    3. karakter asli beby keluar ya? :p

      Hapus
  8. Balasan
    1. iya.. sepertinya ia butuh pu puk

      Hapus
  9. wah parah bner yah di ibu kota, harus tambah hati" nih buat para cwe

    BalasHapus
  10. asal pakaiannya tidak mengoda mah ga bakalan kena..

    BalasHapus
  11. wew. bagus ceritanya. tergambarkan. keren. maknyus...

    BalasHapus
  12. Kirain ada punchline nya. Tau nya emang itu endingnya. Buang saja hayati di rawa rawa, bang. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. puchline apaan?
      enak aj maen buang. emangnya eike sampah. :p

      Hapus
  13. Namanya hayati? *Pake emot kaget*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe... memangnya kenapa dengan nama Hayati,..?

      Hapus