Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Rabu, 27 Mei 2015

World Autism Awareness Day

               7 comments   
Gue mulai gag sabar nunggu temen gue di shelter busway Monas. Minggu lalu gue dan temen kelasan gue janjian buat Ce-eF-De-an. Bukan Ce-eF-De-an juga sih, tapi ikut kegiatan Walk For Autism. Kegiatan ini biasanya rutin dilaksanakan tiap tahunnya untuk memperingati hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day) yang jatuh pada tanggal 2 April.

Di Indonesia sendiri khususnya Ibukota Jakarta, biasanya instansi yang bergerak dalam pendidikan dan pelayanan bagi anak dengan autisme akan melakukan berbagai kegiatan untuk memperingati World Autism Awareness Day, seperti gerak jalan, lomba-lomba dan pentas seni. Upaya ini dilakukan untuk mengenalkan bahwa anak dengan autisme bukanlah manusia yang harus ditakuti. Mereka bisa diajak bekerja sama dan juga memiliki kemampuan dan bakat dalam bidang seni dan lainnya, terutama seni musik. Kalian kenal dengan Michael Anthony seorang pianis termuda Indonesia yang masuk rekor MURI. Ia adalah pianis muda Indonesia dengan kondisi autis dan tunanetra. Ia masuk MURI karena pada usia tujuh tahun sudah bisa membawakan Sonata karya Wolfgang Amadeus Mozart. Bisa kalian bayangkan bukan, betapa luar biasanya anak tersebut.

Kembali ke cerita, dengan bete gue nunggu temen gue akhirnya gw PM dia.
“Fika”
“Oyy..”
Ee, dia cuma balas gitu doang. Tidak tahu apa gue udah bete nunggu lama di sini. Lu harus peka dong Fika. Minta maaf kek, apa kek.? Iya sih gue di selter busway Monas gag sendirian, ada Agustina dan Lina. Tapi ini udah mau jam 7, dan kita masih nunggu lu. Bisa telat dah acara gerak jalannya.
“LAMA”
“Sabar dong, ini gue sudah mau sampai”

Akhirnya Fika tiba juga di selter busway Monas. Ia turun dari busway. Tubuhnya yang sexy dibalut dengan manis oleh kaos biru donker lengan panjang dan celana levis biru panjang.
“Aduh maaf ya lama, gue belom ganti baju nih. Ganti baju di mana ya?”
“Udah ganti baju aja di sini. Kita jagain bertiga”
“Enak aja, ngaco lu dar.”

Kita berempat (gue, Lina, Agustina, dan Fika) keluar dari selter busway Monas dan berjalan santai menuju Pintu masuk monas yang ada di depan gedung Indosat. Dalam perjalanan santai Lina, Agustina dan Fika saling bergandeng tangan. Dan gue berjalan dengan gandeng tangan gue sendiri. :(
“Eh iya. Dea, Ana, dan Mba Ikhda mana ya?”
“Dea dan Ana kayaknya telat. Mereka baru berangkat tadi jam 6.”
“Kalau Mba Ikhda gag ada kabar nih. Aku sudah SMS gag dibales-bales.”
“Terus yang rombongan kereta di mana?”
“Mereka katanya sih mau pada kumpul dari stasiun Juanda”
“Hah.. Juanda. Kan lumayan jauh dari sana ke sininya”
“Iya berasa banget dah tuh mereka jalannya”

Setibanya di gerbang pintu masuk, dari belakang ada gadis kecil yang imut datang menghampiri kita. Dini. Gadis kecil imut, ia datang dengan memakai jaket Adidas berwarna biru dan bergaris kuning.
“Hai.. yang lain pada mana?”
“Iya nih baru segini Din, kita belum bertemu dengan rombongan kereta.”

Tidak jauh dari gerbang pintu masuk terlihat ada rombongan Walk For Autism berjalan keluar menuju pintu gerbang yang baru saja kita masuki. Gue, Lina, Agustina, Fika, dan Dini langsung saja gabung, masuk dalam barisan gerak jalan. Rute gerak jalan dimulai dari pintu patung kuda menuju bundaran HI, dan balik lagi dari bundaran HI ke pintu patung kuda.

Perempat jalan menuju bundaran HI gue masih berjalan dengan gagahnya. Seakan menyanggupi untuk berjalan bolak balik 10 kali. Setengah jalan menuju HI, langka gue mulai gontai. Gue mulai merengek dalam hati, layaknya bayi yang minta asi. Tidak lama saat mau sampai bundara HI, tiba-tiba ada yang colek-colek gue dari belakang. Dan ada yang sebut nama gue dari belakang.
Darma ganteng”
“Iya” Gue pun menjawab sambil menoleh kebelakang.
“Eh... benerkan Darma. Gue jalan cepet dari barisan belakang ke depan, akhirnya ketemu kalian juga.”
“Ana.... Sendirian saja, Dea mana?”
“Dea sama Mba Intan katanya.”

Ana pun gabung bersama kami, dan kami berjalan secara berpasangan sambil bergandengan tangan. Ana dengan Fika, Lina, dengan Agustina dan Dini. Dan gue jalan sendiri di belakang mereka sambil gandengan tangan gue sendiri. :(
“Hah... cape ya.. masih jauh lagi” keluh gue sama Lina yang ada di depan gue.
“Iya. Eh nanti abis selesai ini kumpul ya!”
“Kumpul di mana?”
“Di deket pintu gerbang patung kuda aj.”

Sambil berjalan Lina mulai memainkan handphone-nya, dan mencoba mengabarkan teman-teman lain untuk kumpul setelah selesai acara gerak jalan.
“Kumpul di mana ya?”
“Udah di pintu patung kuda aja”
“Ini lu aja yang ketik di chat grup!”

Singkat cerita gerak jalan pun selesai, gue bersama 5 teman (Lina, Agustina, Fika, Dini, dan Ana) nunggu di deket pintu patung kuda. Dari dalam Monas sudah ada Dita dan pacalnya yang datang menghampiri kita. Tidak lama kemudian ada teman-teman rombongan kereta yang datang. Ada Vina, Mutia, Tiwi, Pipit, Andin, Lyly, Anggre, dan Lala dengan Adenya.
“Dea sama Intan mana?”
“Mereka katanya sudah di dalam deket panggung Walk For Autism.”

Kami semua mulai berjalan menuju panggung Walk For Autism yang ada di tengah taman Monas. Dalam perjalanan, seperti biasa cewe-cewe rumpi sana sini. Lirik jajanan kanan kiri.
“Ini gag ada yang mau belanja?”
“Eh iya nih, gue mau coba pake rok kaya itu.”
“Tuh Dar, Vina mau rok itu. Beliinlah. Kapan lagikan lu liat Vina pake rok.”
“Iya juga yah, pasti cantik” Sambil menanggapi gue menganggukan kepala.
“Ngaco lagi lu Dar.” Sambar Dini.
“Sembarangan aja lu Mut.” Bantah Vina.

Padahal gue mau serius beliin. Tapi gue takut yang lain pada iri. :p Setelah sampai di depan panggung, kita bertemu dengan Dea dan Intan. Diakhir acara kita pun foto-foto untuk mengabadikan moment saat itu. Rasanya gag rela untuk pulang dan berpisah dari mereka. Gue kangen. Mau gue peluk dan cium satu-satu, tapi bukan muhrim. 








Bisa dibilang kumpul kali ini seperti reuni kecil-kecilan. Karena memang sudah cukup lama tidak bertemu, sebab sekarang gue serta teman-teman lainnya sudah mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Eh iya.. Teman-teman gue cantik-cantikan. Tapi ada hal yang bikin gue sebel.. Kenapa posisi gue saat foto bareng mereka gag di tengah-tengah  mereka. akh.. :(

Sudah ya.. Sepertinya sudah cukup panjang. Akhir cerita gue mau ucapin terima kasih kepada yang sudah baca tulisan gue kali ini. Semoga kalian tidak bosen baca-baca tulisan gue lainnya. See you...

7 komentar:

  1. Lo kayaknya pantes di panggil Hayati deh Dar, knp temen lo cewek semua.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh... Ini sudah suratan takdir bang.
      #DarmaPlayer

      Hapus
  2. Sepakat ama Aziz, mungkin ini saatnya kamu berhijab. ._.

    *arti kalimat di atas: "kok elu bisa deket ama cewe terus sih..."

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... begini lah nasib orang ganteng :p

      btw tapi terlalu berlebihan bang kalo dibilang deket ama cewe terus.
      gue baru kenal cewe pas masa-masa kuliah. Itu juga teman wanitanya teman kelasan doang dan krn dominan di kelas kebanyakan wanita cantiknya. :)

      Hapus
  3. Ketauan homonya. :))
    Main sama cewek terus. Hahaha.

    Huft, bingung sama dialognya. Nggak ada penjelasan siapa yang ngomong. :/


    Kenalin dong ceweknya, ada yang jomlo, kan?
    Eh jangan deh. Nurizka aja. Hahaha~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terserah Lau aja dah...
      bilang aja lu iri kan.. :p

      Sepik aja lu.. selir-selir gue itu cantik-cantik loh.. mau.. :p

      Hapus
  4. tau gitu pas acara W4Autism gue harusnya bener-bener manggil lu ya ka-_- abisnya takut salah orang sih wkwkk

    BalasHapus