Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Senin, 15 Juni 2015

Keset Baru

Kali ini gue mau ikutan nulis tentang Keset Kusut. Sebenarnya sudah lewat deadline, tapi gakpapa. Gue memang ikut-ikutan saja sih, hanya sekedar ikut meramaikan kuisnya. Ada yang sudah tahu Keset Kusut? Itu adalah judul buku terbaru dari penerbit Bukune di tulis oleh Arie Je. Bukune ini sedang mengadakan seyembara gitu. Sayembara untuk mencari orang yang bisa menerjamahkan ilustrasi dari kover buku Kuset Kusut. Buku ini luar biasa loh. Mulai dari penulisan, ilustrasi, layout, dan sampul kover semua dikerjakan oleh penulisnya sendiri. Arie Je. Gue belum kenal dengan orangnya, tapi teman-teman kenalan baru gue sudah pada kenal dengan si penulis buku ini. Dia adalah juga seorang blogger, Nama panggilannya kalau tidak salah Jejen. Seorang pria kelahiran tahun 1993 lulusan desain grafis yang handal dalam ilustrator.

Teman-teman baru gue seperti Yoga, Hawadis, Aziz, dan berapa blogger lainnya pada ikutan sayembara yang diadakan bukune ini. Hadiahnya lumayan karen, mendapatkan buku Keset Kusut yang spesial. Lihat saja di sini.

Keren banget, yah. Katanya setiap objek pada desain kovernya punya makna cerita tersendiri. Karena menarik dan mulai jatuh cinta dengan kovernya, akhirnya gue coba ikut-ikutan bikin cerita versi gue berdasarkan kover buku Keset Kusut.

Langung saja. Cekidot.

Satu
Ini adalah beberapa kisah perjalanan hidup gue. Gue Jamil, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dari bangku perkuliahan. Kini kesibukan gue sedang mencari pekerjaan. Mondar mandir mencari pekerjaan di tengah kejamnya ibukota. Gue yang hanya seorang mahasiswa perantau hidup lama di ibukota bersama nenek dan motor maling gue. Maaf gue bukan seorang maling, dan motor gue ini bukan hasil maling. Ini adalah motor warisan kakek gue. Model motor gue ini sempat paling hitz pada masanya. Kalian tahu motor RX-King, dulu kalau di sinetron televisi, motor yang modelnya seperi ini identik dengan seorang penjahat. Motor gue memang seperti penjahat, tapi gue hanya seorang manusia yang hidup penuh dengan cinta. Cinta dari seorang nenek yang gue sayang.

Berawal dari perjalan gue bersama si jagur -motor gue. Gue mencoba mencari kerja ke kota. Ibukota memang indah, indah dengan pemandangan gedung pencakar langitnya. Di persimpangan jalan lampu merah dekat kantor yang gue tuju, gue seakan melihat Jamilah. Gadis kota yang pernah sekelas dengan gue semasa kuliah dulu. Pemampilannya sedikit berbeda, kalau waktu kuliah rambutnya panjang banget. Jamilah selalu tampil dengan gaya rambut yang dikuncir satu, mirip seperti pendekar Cina. Tapi gadis kota ini rambutnya pendek hanya sebatas bahu, dan memakai kaca mata. Namun wajah gadis itu sama cantiknya dengan Jamilah.

Semasa kuliah dulu gue sempat punya rasa dengan Jamilah. Yang gue suka dari Jamilah adalah senyumnya. Senyumnya seperti madu. Manis. Saat tersenyum pipinya terlihat merah, seperti wanita yang sedang minta jatah malam.

Lampu rambu sudah berubah menjadi hijau, gue pun melanjutkan perjalan menuju kantor tempat gue melamar kerja. Setelah sampai di sana, gue hanya menaruh CV dan surat lamaran kerja. Dan gue disuruh datang lagi besok untuk interview dengan kepala perusahaan.

Dua
Sepulangnya gue dari melamar kerja, gue langsung pergi ke kamar dan membanting badan gue ke atas kasur kapuk yang empuk. Sejenak gue menatap langit-langit kamar, dan menaruh kedua telapak tangan gue di bawah kepala. Gue pun memejamkan kedua mata yang sejak tadi terasa lelah. Dalam gelap gue terbayang wajah gadis kota yang tadi gue lihat di persimpangan kota. Seakan memastikan bahwa gadis itu adalah Jamilah, gue mencoba lebih fokus untuk membayangkan wajahnya.

“Senyumnya, sepetinya dia memang Jamilah.” Ucap batin gue.

Gara-gara bayangan itu gue jadi teringat kenangan pahit bareng Ila -nama panggilan Jamilah. Tapi entah kenapa dulu setiap dekat dia gue merasakan suatu kenyamanan. Senyaman hangatnya pelukan nenek.

“Ila, minggu depan jalan bareng yuk?”
“Ke mana?”
“Kita makan malam di restoran sea food Mas Onno, cumi bakar di sana enak loh”
“boleh”

Ila menjawab setuju dan tersenyum. Saat Ila tersenyum nafas gue terhenti dan waktu pun terasa melambat. Sejenak gue dibuat terbang oleh senyumnya, bagaikan penyihir yang terbang dengan sapu terbangnya.

Hari yang ditentukan telah tiba, gue pun pergi ke rumah Ila. Menjemput dirinya dengan bajaj yang sudah gue sewa. Dalam perjalanan menuju rumahnya, gue bertemu dengan Ila yang baru saja turun dari motor ninja bersama seorang pria gagah berhelm hitam. Dia bersama pria itu turun dan masuk ke warung pecel lele. Awalnya gue kagak percaya, dan gue coba untuk mengintipnya dari kejauhan. Ternyata benar wanita itu adalah Ila. Sontak gue merasa kaget. Mendadak perasaan gue menjadi tidak karuan. Terasa kusut, seperti benang layangan yang tidak digulung dengan rapih.

Akhirnya gue memutuskan untuk pulang ke rumah dan menghabiskan malam itu dengan bermain gitar. Menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur diri, namun anehnya malam itu terlihat cerah. Ada bulan dan banyak bintang yang menampakan dirinya. Entah. Mungkin bulan dan bintang itu ingin menghibur gue dengan cahaya indahnya di malam hari. Tapi tetap saja mereka tidak bisa menghibur gue. Gue sudah terlanjur kusut akan perasaan ini. Rasanya ingin saja mati dan pergi meninggalkan dunia ini. Tiba-tiba nenek gue masuk ke dalam kamar.

“Cu, kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa? Nek.”
“Sudah, cu. Kamu jangan mikirin dia terus, kuliah saja yang benar, cepat lulus dan jadi anak yang pintar. Nanti kalau kamu sudah pintar, cewe akan datang dengan sendirinya. Lagi pula kalau itu jodoh kamu pasti akan bertemu lagi.”

Nenek gue menasehati panjang lebar, seakan dia tahu perasaan gue malam itu.

Tiga
Setelah peristiwa malam itu, gue memutuskan untuk tidak memikirkan Jamilah. Dari dalam rumah, gue pamit untuk tidak memikirkan Jamilah. Saat itu pun gue lebih fokus untuk belajar. Ada yang berbeda saat itu, biasanya gue kalau mau curhat, orang pertama yang dengar cerita gue adalah Jamilah. Sekarang tiap mau curhat, gue malah curhat ke Hamham marmut peliharaan gue. Sebelumnya dulu gue punya peliharaan ayam, tapi ayam gue sudah gue potong untuk gue jadikan menu makan malam.

Itulah kisah ingatan terakhir gue bersama Jamilah. Cewe yang gue taksir selama kuliah ternyata dia sudah punya pacar sejak dulu.

Setelah mengingat-ingat tentang kisah gue dan Ila gue pun terbangun dari kasur, berdiri dan pergi mendekati kandang Hamham. Gue lupa hari ini belum curhat sama Hamham tentang perjumpaan gue dengan gadis kota di persimpangan kota yang mirip dengan Jamilah itu. Usai curhat gue bersiap diri untuk tidur, dan mempersiapkan diri untuk besok melakukan interview.

Empat
Pagi pukul 09:00 gue mulai pergi ke kantor tempat kemarin gue menaruh lamaran kerja. Hari ini gue mau melakukan interview di kantor tersebut. Kantor yang gue tuju ini bergerak di bidang desain grafis, cocok dengan kemampuan gue. Gue yakin pasti bakal diterima di kantor tersebut. Setibanya di kantor gue naik dan pergi ke ruangan kepala perusahaan. Tanpa diduga di dalam ruangan itu gue bertemu dengan gadis yang dipersimpangan jalan waktu itu. Dengan yakin gue merasakan bahwa itu adalah Ila. Gue merasakan kenyamanan yang sama saat gue dekat dengan Ila.

“Ila.” sahut gue pelan untuk memastikan.
“Jamil!, kamu yang hari ini interview di sini? Apa kabar?”
“Iya. Aku sehat. Kamu kok ada di sini?”
“Aku kan sekertaris di kantor ini. Ayahku sebagai kepala perusahaan di sini.”

Tidak lama kemudian datang seorang pria yang gagah masuk ke dalam ruangan. Ia adalah ayahnya Ila. Kepala perusahaan di kantor itu. Setelah pria itu duduk, Ila mulai memperkenalkan gue dengan ayahnya sambil menyerahkan map yang sejak tadi Ila bawa. Gue pun dipersilahkan oleh Ila duduk berhadapan dengan ayahnya, dan Ila berdiri di samping kanan ayahnya.

“Ayah ini pelamar baru kita, dia yang hari ini akan di interview.

Ayahnya lalu membuka map, dan di dalam map itu ada CV gue.

“Jamil. Kamu Jamil teman kuliahnya Ila? Tanya ayahnya Ila.
“Iya, pak.” Jawab gue sambil menganguk.
“Kamu kenapa melamar kerja di sini? Kenapa tidak melamar Ila sekalian?”

Sontak aku terkejut, kenapa ayahnya bicara seperti itu? Sekilas gue lihat wajah Ila tersipu malu. Dan pipinya memerah.

“Kamu tahu Jamil, dulu Ila sering sekali cerita ke om dan tante tentang dirimu. Dia suka sekali sama kamu. Katanya kamu itu adalah jodohnya. Ila yakin sekali. Tapi Ila tidak berani bilang ke kamu”

Panjang lebar ayahnya menjelaskan tentang curhatan-curhatan Ila. Sampai akhirnya gue baru tahu bahwa pria gagah berhelm hitam waktu itu yang masuk bareng Ila ke warung pecel lele adalah ayahnya. Setelah mendengar semua cerita ayahnya, perasaan gue menjadi kusut kembali. Tapi kusut kali ini berberda. Kusut yang membahagiakan. Ternyata Ila dan keluarganya sudah welcome banget sama gue.

Akhirnya setelah lamaran saat itu hubungan gue dengan Ila terjalin kembali. Sepertinya dalam waktu dekat ini gue mau melamar Ila. Melamar untuk menjadi istri gue. Tamat []

Keset Kusut
Cover buku Keset Kusut
***

Bagaimana? Itu adalah cerita versi gue yang terinspirasi dari cover Keset Kusut. Aneh, ya? Tapi biarlah. Kira-kira kalian punya cerita apa dari gambar kover buku Keset Kusut ini? Ayo ceritaken di kolom komentar di bawah!

6 komentar:

  1. aaaa keren ceritanya. Happy ending banget.
    :)

    BalasHapus
  2. Kalimat pembuka lu mirip sama tulisan gue. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirip dikit doang.
      kalo lu kan tokoh mahasiswa tingkat skripsi, kalo gue mahasiswa yang sudah lulus sedang cari kerja.

      Hapus
  3. wiih bagus banget tuh udah dapet simpati dari orang tua si cewenya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sudah ada lampu hijau dari orang tuanya

      Hapus