Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Selasa, 30 Juni 2015

Tewas

               36 comments   
Zaky sudah memikirkan cara untuk membunuh Chiko. Dia sudah menyiapkan pisau dapur di tangannya. Layaknya seorang pencuri, Zaky mengendap-endap mendekati Chiko dengan tangan kanan yang mengacungkan pisau.

Dari belakang Zaky berhasil menyekap Chiko. Tidak ada perlawanan yang cukup dari Chiko, karena memang tubuh Zaky jauh lenih besar. Tanpa ragu Zaky meraih leher dan dengan cepat mendaratkan pisau tepat di atas leher Chiko. Merobek dan memotongnya. Terdengar suara Chiko yang mengerang kesakitan. Tubuhnya mengejang, meronta seperti ikan yang keluar dari kolam. Chiko hanya menatap Zaky dengan penuh emosi. Tatapan mata Chiko seakan mengutuk Zaky. Dan akhirnya Chiko tewas di tempat.

Beberapa saat kemudian Ibu Zaky datang. Ibunya terkejut melihat Zaky yang memegang pisau berlumur darah di halaman rumahnya, ia langsung berlari mendekati Zaky.

“Astagfirullah Al 'adzim, Zaky, istigfar kamu, Nak” teriak ibu.
“Ibu. Ibu sudah datang” sahut Zaky sedikit terkejut.
“Kamu kenapa membunuh Chiko?” tanya ibu seakan mengintrogasi.
“Maaf bu, saya terpaksa melakukan ini.”
“Kamu lupa pesan ayahmu, untuk terus menjaga dan merawat Chiko.”
“Tapi bu, aku memotongnya karena aku lapar. Dan aku juga sudah membaca basmalah.”
“Chiko itu kan ayam pencari nafkah keluarga kita. Ayam jago adu kebanggaan ayahmu, kalau ayahmu masih ada pasti ia akan marah besar kepadamu.”

Panjang lebar ibu Zaky berbicara, memarahi Zaky yang telah melanggar wasiat pesan ayahnya. Dan sesekali menceritakan kisah ayahnya saat dahulu merawat Chiko, Zaky hanya merunduk mendengarkan omelan panjang ibunya yang seperti kereta.

“Sudahlah, ibu capek. Marahin kamu lagi, Zaky” dengan nada sedikit kesal ibu meyudahi omelannya.
“Maafin Zaky, bu” sahut Zaky pelan.
“Yasudah, kamu lanjutkan potong-potong Chikonya. Ibu baru saja pulang dari pasar belanja kecap. Sepertinya daging Chiko enak kalau dijadikan opor” kata ibu Zaky yang mulai mereda marahnya.
 ***
Terima kasih sudah membaca. See you ~

36 komentar:

  1. haha :D kirain chiko itu manusia, eh ternyata hewan yaa :D salah paham nih :D :D
    lah awalnya aja marah-marah eh ternyata di dukung juga :D sama-sama kelaperan kali ya :D

    BalasHapus
  2. ciaaah, gagal paham nih, kirain saya membunuh manusia, ternyata hewan :D
    pake ngomel segala, tapi ujung-ujungnya ikut makan juga :D
    bisa bisa aja nih cerita,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha.. tadinya mau pembunuhan. Tapi karena penulisnya leper malah jadi nyerempet ke makanan. :p

      Hapus
  3. siull.. Chiko ternyata ayam. kirain kambing..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain burung.
      Burungnya Darma. :(

      Hapus
    2. heheheh... Kirain beruang.

      Sini, Yog. Burung lu aja yang gue bunuh, sini.

      Hapus
  4. wahhh jadi si ciko ayam yang sekarang mau di opor, haduhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. :(
      Harrusya nanti saja, ya, potongnya pas lebaran. sekarang binggung nih mau biki opor apa pas lebaran nanti? Sudah tak punya ayam.

      Hapus
  5. HAHHAAAAA gue kira pembunuhan serem gitu, gak taunya ayam :D

    Paraaahhh !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek puasa. Alur ceritanya jadi berubah.
      #laper

      Hapus
  6. Dari pembukaan udah bagus, bikin tegang, begitu ke isi cerita, kayaknya kurang deh. Apalagi ending-nya, Dar. Terlalu cepet lu kasih twist.

    Overall, keren kok!

    Oke, teruskan!

    BalasHapus
  7. hahahaha ayam jago toh..

    salam buat Zaky mas.. bagiin saya bagian paha buat sahur nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh mas, ini saja sudah irit-irit. supaya bisa mencukupi untuk lebaran nanti.

      Hapus
  8. Hahaha... Chiko terlalu keren buat nama ayam tuh... hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. harusnya apa, dong? Nurhakim kali,ya. :p

      Hapus
  9. Wah parah nih Zaky ngelanggar wasiat dari bapak'a sendiri, awas loh kualat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak hanya kualat. Mungkin bisa di coret dari keluarga. Dan tidak dianggap keluarga lagi.

      Hapus
  10. Hahaha penipuan nih, ternyata ayam ye..

    BalasHapus
  11. Ibunya alim, bapaknya tukang sabung ayam, anaknya sableng. Keluarga yang salah gaul ini namanya

    BalasHapus
  12. Wualaaaah.. Ayam toh rupanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheheh... Tadinya mau burung. Burungnya Febri. *eh.

      Hapus
  13. Nama ayamnya bagus. Chiko. Plesetan dari chicken kah, Dar?
    Yeee, ibunya kayaknya laper juga deh, bukannya capek ngomelin si Zaky. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah.. bisa jadi tuh.
      Sebenarnya sejak suaminya tiada, itu ibu mau motong ayamnya. Tapi doi tidak berani. Dan yang khilaf motong malah anaknya.

      Hapus
  14. Pembukaannya udah keren kaya cerita" pembunuh berdarah dingin. taunya cuma motong ayam -_-

    BalasHapus
  15. Hahay keren Dar!
    Kirain cowok yg berantem gara2 cewek. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cowok yang berantem gara-gara cewek. Boleh juga tuh buat jadi tulisan nanti.

      hehehhe Terima Kasih

      Hapus
  16. pake di introgasi segala kaya kasus apa aja :D

    BalasHapus
  17. Bah taheee. Kirain manusia. Taunya ayam. Tau gitu gua bantuin potongin dah. Lumayan buat buka puasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan bang, itu ayam banyak dosanya. Ayam jago aduan soalnya. Takut dosanya nanti pindah ke yang makan tu ayam. :p

      Hapus
  18. waaaaaa sadizzz, daging chikooo katanya, hmm
    tp untunglah itu cuma ayam haha

    BalasHapus