Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Senin, 24 Agustus 2015

Copet di Kopaja

Beberapa hari lalu gue pulang. Pulang dari rumah teman di Pasar Minggu menuju Lebak Bulus. Seperti biasa kalau dari situ, gue selalu pulang naik mobil kaleng. Kopaja nomer 20. Kopaja reguler jurusan Senen – Lebak Bulus, bukan yang AC.

Hampir tiap naik kopaja nomer 20, gue selalu dihadapkan dengan peristiwa yang membuat kesal dan jengkel. Gue melihat aksi copet yang mencuri. Pas saat gue naik, tidak jauh kemudian ada seorang ibu bersama bapak -mungkin itu suaminya- turun dari kopaja. Tepat di belakang bapak itu ada dua pemuda yang juga ingin ikut turun -tapi, pura pura mau turun. Satu pemuda menggendong tasnya ke depan. Gue rasa tas itu tidak ada isinya. Terlihat ringan di mata dan tanpa isi. Dan satu pemuda lagi mendorong pemuda yang membawa tas kosong itu. Saat adegan dorong-dorong itu pemuda yang bawa tas di depan, melakukan aksinya.

Kantong celana belakang bapak yang ingin turun itu dirogoh, lalu diambil benda biru yang ada di kantong belakang. Entah itu handphone atau dompet. Saat melihat itu sontak gue kesal. Gue benar-benar melihat jelas kejadian itu. Awalnya gue ingin menghentikan kejahatan itu, lalu berteriak maling. Tapi, gue hanya bisa mendongkol dalam hati. Setelah melakukan aksi itu dua pemuda maling tidak turun dari kopaja. Sepertinya mereka masih mau melakukan aksinya. Dan betul dugaan gue. Pemuda bertas itu mulai mendekati dua wanita yang duduk di bagian depan dekat sopir. Kali ini gue tidak mau kecolongan aksinya lagi. Gue harus bisa menghajar maling itu, itu tekad dalam hati. Gue pun ikut menghampiri tempat duduk mereka. Tempat duduk maling dan dua wanita di depan.

Sedikit so-so-an gue mengepalkan dan membunyikan jari-jari. Bergaya seperti hendak ingin memukul seseorang Lumayan, itu bisa membuat gue terlihat sangar dan ngocol. Ditambah rambut gue yang saat itu masih panjang dan gondrong. Satu wanita yang diincar maling itu turun, gue langsung sigap menghalang-halangi langkah dua maling itu. Iya, akhirnya gue rasa wanita itu selamat, dan tidak ada benda yang diambil dari wanita itu. Tapi, setelah itu ada pemuda lain yang duduk jauh dari belakang datang mendekati gue dan menepuk bahu gue. Pemuda dengan paras seperti orang ambon. Terlihat kuli bangunan berkulit gelap. Tanda gue sadari sepertinya gerak-gerik gue sudah diperhatikan oleh pemuda ambon itu. Sepertinya dia masih anggota copet. Pemuda ambon itu tampak kesal. Karena, gue menggagalkan aksi temannya. Pemuda ambon itu menepuk dan menanyakan gue turun di mana. Gue hanya membalasnya dengan tatapan dan menunjuk ke kaca depan mobil. Tanpa kata-kata.

Tidak sampai di situ. Masih ada dua wanita lagi di dalam kopaja. Setidaknya kurang lebih ada 11 orang lagi dalam kopaja itu. Gue dan dua wanita, supir, dua maling pertama, pemuda ambon, dan empat pemuda yang duduk dibelakang kopaja. Gue mencurigai pemuda-pemuda yang ada di kopaja kecuali, gue dan supir, mereka adalah gerombolan copet. Karena asumsi itu, gue membayangkan kalau seandainya aksi pertama yang gue lihat tadi, lalu gue berteriak copet. Pasti gue sudah dihajar habis oleh komplotan pemuda itu.

Akhirnya kopaja itu memasuki pemberhentian terakhir. Gue pun langsung menjaga wanita yang di depan dekat gue turun dari kopaja. Dan sayang, satu wanita yang duduk di belakang tidak bisa gue cover. Gue dan wanita yang duduk di depan turun bersamaan. Wanita itu dulu yang turun baru gue menyusul. Setelah turun dari kopaja, gue mulai sedikit menjauh dari wanita itu. Namun, tidak lama ada pemuda lainnya datang mendekati wanita itu. Dengan jelas pemuda itu menggerakkan tanggannya ingin membuka tas wanita itu. Gue langsung mendekati pemuda itu, lalu menepuk tangannya. Akhirnya gue tarik wanita itu, dan membawanya menjauh dari pemuda pemuda yang turun terakhir dari kopaja. Lalu gue sedikit bercakap ke wanita itu, menjelaskan aksi copet di kopaja yang sudah berhasil mendapatkan dua korban. Dan bertanya apakah ada barangnya yang hilang.

Sebenarnya banyak rawan di dalam angkutan umum. Tidak hanya di dalama kopaja nomer 20 jurusan Senen – Lebak bulus, Mayasari nomer 57 jurusan Blok M – Pulogadung dan beberapa lainnya pun pasti ada pencopet di dalamnya. Dan pencopet itu biasanya lebih dari 2 orang. Kadang, mungkin kita kalah suara dan berbalik malah kita yang dituduh copet. Alhamdullillah, waktu kejadian itu gue selamat. Mungkin, berkat doa orangtua.

Sedikit tips aman saat di dalam kopaja, berdoa sebelum dan sesudah naik, siapkan uang pas untuk ongkos yang sudah dipegang di tangan. Jangan main handphone, dan mengeluarkan dompet saat di dalam kopaja. Simpan barang berharga di dalam tas. Tas ditaruh di depan sehingga terjangkau dari pandangan mata. Jaga tas dengan baik, dan posisikan kancing seleting tas supaya terjangkau oleh mata dan tangan. Setelah turun periksa kembali barang bawaan.

Maaf kalau tipsnya rada rada kurang. Ini sebenarnya cuma mau berbagi cerita. Mungkin, kalian yang punya tips yang lebih aman. Silakan berbagi dan komentar di kolom komentar bawah. Terima kasih.

34 komentar:

  1. wah separah itu kah kalo naik angkutan umum di Jakarta? jadi ngeri nih

    Coba banyak orang kayak lu gitu ya dar, copet copet langsung pada pensiun deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang angkutan umum sudah bisa dibilang rawan, Tindakan asusila juga ada. Kebetulan gue pelaku asusilanya. :p

      hahahha. Itu gue beruntung aja. Aslinya mah takut beneran.

      Hapus
    2. rambut gondrong mah keren mas jangan takut :)

      Hapus
    3. keren apanya? kadang gampang gerahnya.

      Hapus
  2. mesti waspada ya kalau naik angkutan umum
    banyak copet

    BalasHapus
  3. Copet yang mencuri? Ya iyalah, mana ada copet yang ngasih duit -_-
    Ini beneran Dar cerita'a?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha. Iya, ya. Pemborosan kata, ya.

      Silakan coba naik kopajanya. Kalau bisa pagi hari jam 6, terus taro dompet atau hp di saku belakang.

      Hapus
    2. Disini gak ada Kopaja gimana dong?

      Btw kenapa cewe yang lo jaga gak ajak kenalan trus minta pin atau no Hp'a ??

      Hapus
    3. bukan pahlawan donk kalau ujungnya minta pin mah, tapi artis ftv :D

      Hapus
    4. hmmm. sebenarnya gue lebih takut kalau disuruh kenalan sama cewe, bang.

      Hapus
  4. kalo yang nyopet wanita gimana, ato komplotan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya copet wanita lebih parah.

      Hmm. paling gue perkosa copet wanitanya. :p

      Hapus
  5. hmm, ngebayangin orang yang dicopet itu adalah sodara sendiri, gimana yaa?

    BalasHapus
  6. Eh ini beneran beh? Kemungkinan mereka satu komplotan didalam kopaja itu ya beh.
    Sereemm

    Eh gimana sm cewek yg lu jagain itu? Ajak kenalan atau apa gitu kek. Biar kayak di tipi tipi.
    Hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau kenalan gimana.
      Waktu jagain itu cewe muka gue udah pucet, plus keringet dingin.
      Gue malah di kira psikopat yang kelaparan.

      Hapus
    2. hmm. Psikopat itu, kan, kalau kata orang awam seperti orang gila, ya.
      Iya, sih, mungkin, gue memang gila.


      gila karenamu.
      *cie lagi deh.

      Hapus
    3. Iya, lu emang gila beh.

      HAHAHAHHAAHHAAHAHHAHAHAHHAHA
      HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHHA
      HAHAHAHHAHAHAHAHHA
      HAHAHAHAHAHAHHA
      HAHAHAHHAHA
      HAHAHHA
      HAHA
      HA














      cie.

      Hapus
    4. Woy. Komen macam apa ini?
      Untung lu cakep.
      Kata kaka Boni, orang cakep bebas mau ngelakuin apa saja.

      Hapus
    5. Hahhahaa

      sayangnya, gue tidak cakep. :(

      Hapus
  7. serem juga ya kalau naik angkutan umum

    BalasHapus
  8. Gue pernah jadi target pencopetan dua kali hehe. Di pulogadung dan kopaja. :" Yang di polugadung udah sempet diambil hpnya, tapi Alhamdulillaah hpnya kelempar gitu. Yang di kopaja, gue dijebak gitu dan tas gue udah kebuka setengah (gue udah keburu nggak peduli sama jebakan si copet). Dan Alhamdulillaah nggak ada yang ilang

    Emang harus extra hati-hati naik angkutan umum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue juga pernah, sih. Mampir jadi korban pas SMP. Itu di dalam angkot lagi. Kacau, dah. Tapi, nggak tahu kenapa gue selamat. Tiap itu copet buka tas gue, gue langsung lihatin itu copet.
      Pas gue lihat, mata dia melotot. Pengen gue colok rasanya.

      Hapus
  9. Waduuuhhhh, cerita soal copet. Gue juga beberapa kali nih sering lihat. Cuma bisa diem aja. Di kereta Commuter Line juga pernah. Copetnya cewek cantik malah. :/

    Temen gue pernah neriakin copet, eh temen gue ditusuk sama piso lipet gitu. Bagus lu selamet. :))

    Btw, makasih infonya kakak. Artikelnya bermanfaat sekali. Zupeeerrrrr~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. kalau di kereta gue belum pernah ketemu.
      Di busway juga ada. Copet wanita juga. Terutama di halte Harmoni dan Benhil.

      Serius itu? Kacau.
      Iya, mungkin, kalau gue teriak copet bakal bernasib sama kaya teman lu,Yog.

      Cek IG kita, Sis.

      Hapus
  10. gue dulu pernah kecopetan, pas turun dari angkot tanpa sadar hape gue udah ngak ada lagi di tas. copetnya pake modus segala dan beranggotakan 2 orang. rasanya pengen nyari tu copet, klau dapat dipotong, pake bumbu sajiku tterus digoreng.

    dianexploredaily.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. biasanya mereka memang suka pakai aksi modus juga. Dan bisa juga lebih dari 2 orang.

      Hapus
  11. kasihan sama yang udah dicopet

    BalasHapus
  12. Memang dalam melancarkan aksi seperti itu mereka tidak selalu sendirian pasti bergerombol, kawan saya juga pernah tuh gara-gara lengah ehhh hp nya ilang digondol si copet,heu
    meski hati-hati deh kalau di angkutan umum itu.

    BalasHapus
  13. saya juga pernah mas, hampir kecopetan, soalnya keburu ketahuan sama saya juga.. bener-bener deh yaa tuh orang, gimana kalau orang terdekatnya yang dicopetin .. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin, copetnya bakal balik nyopet orang yang mencopet orang terdekatnya.

      Hapus
  14. kalau saya gak pernah ngalami ataupun liat gini-ginian di kopaja, tapi kalau gebukin begal sering liat sih.
    tuh copet nekat juga yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Super. Lu penah gebukin kang begal.
      Namanya juga copet. Pasti nekat.

      Hapus