Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Minggu, 23 Agustus 2015

Nyamuk di Stasiun

Huh.. Aku mulai suntuk mengerjakan tugas kuliahku. Sudah hampir 120 menit aku berkutat dan menyendiri di dalam kamarku. Sudah hampir 120 menit juga, aku membenturkan isi kepalaku dengan layar netbookku.

Sedikit aku mulai memberikan jarak di kepalaku . Bukan. Bukan daun jarak yang ku maksud. Tapi, ruang sela antara isi kepalaku dengan penatku. Aku yang mulai jenuh dengan tugas kuliah memutuskan untuk berhenti. Berhenti sejenak mengerjakan tugas kuliah dan memilih untuk memikirkan hal lain. Seperti merencanakan hal untuk pergi ke suatu tempat, misalnya. Aku mulai mencari pemandangan lain di sisi kamarku, melemparkan pandanganku ke sisi kiri kamar. Sisi dimana aku bisa melihat cuaca hari ini dari balik jendela kamarku.

Tetiba aku ingat kejadian di kantin kampus beberapa hari lalu. Kejadian saat aku berjumpa dengan temanku di sana. Gadis yang aku jumpai di sana. Ada yang khas dari gadis itu. Selain memiliki dada besar, dia juga memiliki harum tubuh yang seperti obat nyamyuk beraromakan kulit jeruk. Sepertinya aku akan memanggilnya gadis soffel.

Aku mulai memikirkan rencana untuk mengajak dia jalan. Lagi pula, kemarin dia sepertinya mau aku ajak jalan. Aku mulai mengambil sepotong kertas dari dompetku. Kertas yang bertuliskan alamat e-mailnya. Kertas yang kemarin ia berikan padaku.

Mulaiku memainkan jari. Membiarkan isi kepala dan jariku menyatu. Jariku menari dan merangkai kata di tombol netbookku. Membuat kata dan kalimat serupa undangan, tuk mengajak gadis soffel jalan bersamaku.

“Sore ini? Iya boleh saja. Memang kamu mau ajak aku jalan ke mana?” balasnya dalam e-mail.
“Entahlah. Kamu kan lebih tahu tentang negeri ini. Yang jelas antarkan aku ke tempat serupa toko buku.” balasku padanya.
“Oh. Kalau begitu kita ke stasiun dekat rumahku saja. Stasiun Hakata. Di sana ada Gramedia, kalau tidak salah.” katanya memberikan jawaban.
“Ok. Jam 17:00 ketemuan di stasiun Hakata, ya!” kataku memutusan.

Janji sudahku buat, sekarang aku harus bergegas mandi, dan merapihkan diri. Saat aku masuk kamar mandi, aku baru ingat, sumur di kosanku sedang kering. Hanya ada air satu gayung, ini pun aku hemat untuk keperluan eek dan pipisku. Aku memutuskan untuk cuci muka dan ketekku saja. Aku sudah dimakan waktu. Lima belas menit lagi waktu menempati pukul 17:00. Aku yang selesai mencuci muka, mendadak panik dan buru-buru pergi ke tempat janji. Bermodalkan pakaian terbaikku dan parfum hamalku, aku nekat bertemu dengannya dalam keadaan belum mandi. Semoga saja dia tidak tahu.

17:03 waktu bagian Jepang. Aku tiba di stasiun Hakata. Dari kejauhan aku bisa melihat dirinya sedang mensedekapkan kedua tangannya, menungguku di depan loket karcis. Mengenakan kaos hitam dengan celana jins biru gelap, dan tak luput kardigan ungu yang membalut tubuhnya yang indah. Sedikit wajahnya mirip dengan Kak Rose dalam film Upin Ipin. Jutek namun, menggemaskan. Rambutnya yang panjang dan ikal di ujungnya, diikat satu seperti ekor kuda. Menambah kesan manis pada dirinya. Sempurna.

Aku tahu bahwa itu adalah dia, si gadis soffel. Tentu saja aku tahu, dia adalah satu-satunya gadis paling aneh di sana. Aku sengaja mensugestikan diriku, bahwa dia adalah gadis aneh. Dengan begitu, aku berharap, aku tidak akan suka padanya. Meski sebenarnya. Sudahlah lupakan itu. Aku buru-buru lari menghampiri dirinya. Aku merasa malu karena telat 3 menit.

Huft... Maaf aku telat.” kataku sedikit menahan letih.
Plaaakk” dia menamparku, tamparan telak di pipi kananku.
“Kok, aku ditampar?” tanyaku heran.
“Iya. Itu tadi ada nyamyuk di pipimu. Kamu belum mandi, ya? Kok, dinyamukin gini.” katanya pajang.
“Masa sudah wangi begini dibilang belum mandi. Sudahlah, di mana toko bukunya?” kataku mengalihkan pembicaraan.

Setelah berjumpa dengannya di stasiun Hakata, kami beranjak pergi ke Gramedia yang tidak jauh dari sana. Di sepanjang perjalanan kami banyak bertukar cerita. Tentang dirinya, tentang diriku, tentang kita. Sedikit aku menemukan poin-poin penting tentang dirinya. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia suka sekali makan mie, suka minum susu padahal dia punya susu, dan suka jus alpukat. Kalau tidur selalu pakai selimut. Dan bulan depan adalah bulan kelahirannya. Baru itu saja yang aku tahu tentangnya.

Tiba di dalam toko buku kita berpencar. Seakan masing masing dari kami ingin mencari buku yang kita inginkan masing-masing. Awalnya aku menawarkan diri untuk membelikan dia satu buku. Namun, ia menolaknya. Dia lebih memilih meminta jajan untuk ditraktir makan mie di rumah makan dekat stasiun juga. Setelah satu jam lebih berkeliling di toko buku, aku berhasil membawa pulang tiga buku. Dua buku novel, dan satu buku kamus tejemahan.

Sekembalinya kita berpencar, dia langsung saja menagih janjiku untuk mentraktirnya malam ini. Mentraktirnya untuk makan mie di rumah makan dekat stasiun, yang tidak jauh dari toko buku. Tanpa basa basi dia langsung menarik tanganku, dan menyeretku pergi ke rumah makan yang ia maksud.

Entahlah. Saat dia menyentuh tanganku, nafasku seakan berhenti, waktu seakan melambat. Dan bayangku, terbang melayang memikirkan masa depan bersamanya. Kahlil Gibran pernah berkata “saat tangan laki-laki dan perempuan bersentuhan, saat itulah mereka berdua telah menyentuh keabadian.” Aku sebenarnya kurang paham perkataan si penyair itu. Perkataannya yang aku dapatkan dari timeline pada salah satu media sosial. Tapi, apa mungkin yang dimaksudnya itu seperti yang saat ini aku rasakan. Entahlah.

Diriku seakan pasrah, saat tangannya menarik tanganku. Membawaku pergi entah ke mana. Berlari bersama melewati jejaran dan jajaran ruko di sepanjang jalan. Lalu berhenti depan rumah makan mie.

“Kita akan makan di sini. Ini tempat langgakanku.” katanya dengan riang “kamu yang bayarin kan?” katanya melanjutkan.
“Iya aku yang bayar. Makan saja sepuasmu.” jawabku menyombong.
“Hahahahhaha. Porsi makanku banyak, loh.” jawabnya menjelaskan.

Dan benar saja. Saat kita duduk di meja makan nomor empat belas. Dia memesan tiga mangkok mie. Dua mangkok untuknya, dan satu mangkok untukku. Dilanjut lagi dengan memesan dua gelas susu soya, satu jus alpukat, dan segelas air putih.

Sambil menunggu pesanan tiba, kita saling bercerita tentang masa SD dan SMP dulu. Aku bercerita tentang masa SD ku yang dulu pernah masuk ke dalam toilet cewe waktu bermain petak umpat. Dan di dalam toilet ada adik kelas yang sedang pipis. Lalu, ia bercerita tentang masa SD nya yang selalu di antar jemput oleh bus sekolah.

Usai bercerita dan makan malam saat itu, aku langsung merogoh saku celanaku. Bersegera tuk mengambil dompet dan membayar semua pesanan di meja. Namun, aku mulai panik. Mendapati bahwa dompetku tidak ada di saku celana, tempat biasa aku menaruh dompet. Sesaat aku sadar, ketika pulang dari toko buku menuju rumah makan ini, ada orang yang menabrakku di jalan. Sepertinya aku telah kemalingan.

“Maaf, kamu bawa uang lebih, tidak?” kataku memelas.
“Kenapa? Jangan bilang uangmu kurang?” balasnya sedikit panik.
“Bukan. Sepertinya dompetku hilang, dicuri orang sewaktu jalan ke sini.” kataku menjelaskan.
“Yah. Terus ini siapa yang bayar? Aku tidak bawa uang.” jawabnya panik.
“Hmm. Disini tidak bisa ngutang dulu, ya?” tanyaku tak memberi solusi.

Mendengar pembicaraan kami, seorang pelayan langsung menelpon entah siapa dari meja kasir. Tidak lama setelah itu seorang pelayan datang bersama pria berbadan besar. Sepertinya dia adalah pemilik rumah makan ini. Kita pun melakukan negoisasi. Dan mendapat hukuman untuk mencuci puluhan piring kotor sebagai bayarannya. Satu jam sudah kita membersihkan piring kotor. Yang tadinya kenyang kini menjadi lapar kembali.

Waktu sudah malam. Mau tidak mau aku harus mengantarkan gadis soffel pulang. Kita pun jalan pulang bersama menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah makan dan stasiun. Sedikit langkahnya sudah mulai gontai dan melambat. Aku khawatir ia akan pingsan di jalan.

“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Aku ngantuk, ini sudah jamnya aku tidur” jawabnya.
“Naiklah ke pundakku, biar ku gendong dan ku antar pulang” pintaku menawarkan diri sambil jongkok di depannya..
“Tak usah, rumahku dekat dari sini." katanya sedikit menolak.
“Hei, jangan tolak niat baik seseorang, dong. Naiklah." pintaku merajuk.

Setelah bujuk rayu yang cukup lama, akhirnya dia naik ke pundakku. Awalnya aku kesulitan membawanya. Ternyata dia cukup berat dari apa yang kubayangkan. Kurasa yang membuat dirinya berat adalah dadanya yang besar.

Akhirnya malam ini kita pulang bersama. Tidak lama setelah itu, ia tertidur dipundakku. Aku yang sedikit kerepotan masih melanjutkan jalan mengikuti rute yang telah ia tunjukkan sebelumnya. Sambil ditemani angin malam yang cukup dingin. Sesekali aku membaui tubuhnya yang harum, seperti obat nyamuk. Aku dihadapannya bagaikan nyamuk tak berdaya, terbius mati oleh harum tubuhnya.

28 komentar:

  1. Dada! Hahaa

    Kereen ceritanya. Ini sambungan cerpen yg kemarin kan? :D

    Emang dada nya sebesar apa sih? Sampe si cowok keberatan gitu pas menggendong dia. Hahaa

    Alasan doang dompetnya kemalingan. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Masih banyak failnya ini.

      Kayanya bukan, sih. Syukur syukur kalau nyambung.
      kalau nyambung, kan, berarti cocok. Kalau sudah cocok, siapa tahu jodoh.

      Sebesar toge. Silakan cari di google, apa itu toge.

      Hapus
    2. Sama-sama anak muda.
      Gak papa, gue juga kalo nulis masih banyak failnya. Kan sama-sama belajar :)

      SIAPA BEH?

      Udah, udah. Gue udah tau sebelumnya apa itu toge. Ada kepanjangannya kan

      Hapus
    3. Siapa? apanya yang siapa? siapa yang tanya.

      Wah, lu tahu apa itu toge. Kacau juga lu. hahahaha.

      Hapus
    4. HAHAHAAAA minta digantung nih anak.

      Toge, itu kan yang dari kacang hijau itu.
      Ya taulah gue.

      Hapus
    5. Hahahhaah. Iya itu.
      Toge bagus buat kesuburan, katanya.

      Hapus
  2. Aseek, keluar jg nih akhirnya lanjutan cerpennya :D

    Wakakak, gadis soffel :'D Ada ada aja dah.. Ntar kak Wulan bikinnya gimana yak? Kebayang dah, cowo bau terasi... Wkwk

    Yah, gagal soswit deh, niatnya nraktir malah jd nyuci piring sejam.__.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh masukkan, nih, Lu.
      Masih banyak failnya, nih.

      Memang yang soswit itu bagaimana, ya?

      Hapus
  3. Anjrit lah nih cerita ,,
    masih berlanjut ga ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa?

      Hmm. Silakan tanya pada ibu peri.

      Hapus
  4. Darma suka Dada Besar. Anjrit endingnya biasa aja. Ahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh..

      Iya,bang. MAsih banyak failnya.
      Minta masukan, dong. Kalau bisa masukkan untuk dompet gue.

      Hapus
    2. masih bersambung itu bang Aziz. :)

      Hapus
    3. Bohong, bang. Adanya cerita sebelumnya.

      Hapus
  5. duh, baru dateng ditampar, ngantuk digendong. wutuanetcih haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kasihan, ya. Hmm. susu anget?

      Kamu mau digendong juga?

      Hapus
  6. lumayan juga nih ceritanya :D

    BalasHapus
  7. OH, jadi Wulan sama lu ada sesuatu. :))
    Itu beneran udah survey ada Gramed di Jepang? :/

    Kayaknya ini cuma ganti sudut pandang aja, ya? Aturan mah dialognya nggak perlu dimasukin semua. Kan informasi itu udah didapetin di tulisan Wulan. Mending tulis hal-hal yang lebih mendalami karakter si cowok. CMIIW :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha. Ini memang dibikin aneh.

      Iya memang hanya sudut pandang yang beda.

      Terima kasih, kaka.

      Hapus
  8. Kirain bakal cerita tentang nyamuk yang berubah wujud jadi orang lalu pacaran sama orang hehe, tapi keren nih kak Ros suka wkwk

    BalasHapus
  9. wah... love story nya mahasiswa begini yak... ketemu cewek, dada besar.. harum... jalan bareng. mungkin wanginya emang wangi banget yak itu cewek... *ngebayangin dulu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dibayangin, Bang. Nanti bisa mimpi basah.

      Hapus