Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Perkenalan

               28 comments   
Di kampus barat negeri Sakura, aku lapar. Iya, aku lapar. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Padahal beberapa jam lagi masuk waktu makan siang. Sejak pindah ke Jepang nafsu makanku seakan meningkat double. Tak apalah, daripada nafsu berkembang biak yang bertambah double bisa bahaya. Nanti yang ada aku malah main sama Maria Ozawa atau Sora Aoi.

Aku yang kelaparan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin kampus. Ini pertama kalinya aku jajan di kampus. Karena, biasanya aku selalu makan bento, saat aku lapar. Tapi, bento itu untuk makan siangku. Aku mulai beranjak pergi ke kantin. Di kantin, aku mulai menggunakan mataku untuk mencari tahu jajanan apa yang akan ku beli.

Siomay. Aku melihat ada yang berjualan siomay di pojok kanan kantin. Sebenarnya yang mencuri perhatianku bukan siomaynya. Tapi, gadis yang ada di balik gerobak siomay itu. Gadis teduh yang tersenyum manis. Cantik dan manis. Matanya, senyumnya, seakan mantra sihir yang dirapalkan untukku. Aku tersihir olehnya. Dan dadanya. Hmm..

Baiklah aku akan jajan siomay itu dan berkenalan dengan gadis teduh si penjual siomay. Aku mulai mengatur langkah, suara, dan penampilanku, mendekati gadis itu dan gerobaknya. Saat memesan sepiring siomay, hidungku seakan mengenali harum jeruk dari tubuh gadis itu. Iya benar, aku dan hidungku kenal sekaligus akrab dengan harum tubuhnya. Harum yang seperti obat nyamuk. Mungkin aneh. Tapi, aku suka harum tubuhnya.

Sambil menungu pesananku datang di meja. Sesekali aku curi pandang ke dada gadis itu. Ok. Aku terhipnotis oleh dadanya. Tidak, maksudku, aku curi-curi pandang ke wajah gadis itu. Aku duduk memandangi wajahnya yang ayu, aku mulai mengingat-ingat wajah dan harum obat nyamuk di tubuhnya. Dia terlihat mirip dengan teman SD ku. Raisa. Teman SD yang saat itu pindah ke Jepang. Aku mulai menyimpulkan, mungkin benar kalau dia adalah Raisa, teman SD ku dulu.

Dia melihatku. Dengan sigap dia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Sial aku ketahuan. Gadis teduh itu mulai datang mendekatiku dan membawa siomay pesananku di tangan kanannya. Dan tangan kirinya bersembunyi dibalik badannya, seperti ada yang disembunyikan dibalik sana. Entahlah.

Selesai ia meletakkan piring dimejaku. Aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Hei. Boleh kenalan aku Daruma, orang baru di sini dan asli orang Indonesia. Kamu dari Indonesia juga, kan?” tanyaku sedikit malu.

Dia hanya membalas dengan senyuman, dan aku tersipu malu. Wajahku seakan memerah, semerah bibirnya. Gadis itu mulai duduk satu meja denganku, dia duduk di depanku.

“Iya, aku dari Indonesia. Ada apa?” jawab singkat si gadis teduh.
“Hmm. Biar ku tebak, namamu Raisa KW, bukan? Yang dulu pernah sekolah di SD Bojong Kondang Kecamatan Cidaha?

Aku sengaja menyebutkan lengkap nama SD ku, karena ku takut salah orang.

“Iya, kok, kamu tahu?” tanya Raisa -gadis teduh- mengheran.
“Kamu tidak ingat denganku? Kita pernah pernah satu bangku saat awal masuk di kelas dua. Tapi, seminggu setelah itu, kamu pindah ke Jepang.” jelasku panjang.
“Oh. Maaf, aku tidak ingat.”
“Hah. Sudahku duga. Kamu banyak berubah, ya. Apalagi dadanya, sudah tidak sekecil dulu. Itu asli?” bodoh, celetukan bodohku keluar dari mulutku. Aku malu.
“Hahahaha. Tentu saja ini asli. Kenapa? Kamu mau pegang. Nih!” jawab Raisa sambil menodongkan gir yang tadi disebumbunyikan di balik tubuhnya.

Itu nawawin apa ngancem, sih? Tentu saja aku mau pegang dadamu, Raisa. Astagfirullah.

“Maaf-maaf, aku keceplosan.” sanggahku cepat.
“Hahaahaha. Kamu sedang ada apa di sini? Liburan?” tanya Raisa.
“Tidak, aku sedang melanjutkan studiku di sini untuk beberapa tahun ke depan. Kamu sendiri, kenapa ada di kantin kampus?” tanyaku balik.
“Aku sedang bantu-bantu ayah. Kebetulan tempatku bekerja sedang libur minggu ini.” jawab Raisa.
“Oh. Kamu punya kunci Inggris, nggak?”
“hah? Nggak punya, tuh. Buat apa?” jawab Raisa heran.
“Hmm. Nggak punya, ya. Kalau alamat e-mail punya, kan?”
“Hahaha. Bilang saja mau minta e-mailku.”

Raisa mulai merogoh saku di dadanya, mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, kemudian menuliskan alamat e-mailnya.

“Ini. Simpan dan ingat baik-baik, ya.” pinta Raisa sambil menyerahkan sepotong kertas.
“Ok. Terima kasih. Eh. Minggu ini kamu lagi libur, kan? Kapan-kapan kita jalan bareng, yuk! Kenalkan aku dengan seluk beluk negeri Sakura ini. Kamu kan sudah lama tinggal di negeri Sakura ini” pintaku penuh harap.
“Boleh. Kabarkan saja. Kapan waktunya? lewat e-maill, ya!”
“Sudah, ya. Aku mau bantu ayahku lagi. Dah~” lanjut Raisa.

Raisa mulai berdiri dari tempat duduknya, perlahan ia membalikkan badannya. Dan meninggalkan harum obat nyamuk di hidungku.

Sedikit, aku mulai nyaman dengan negeri Sakura ini. Aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Walaupun ia tidak mengingatku. Akhirnya aku punya satu teman dari Indonesia juga. Raisa. Teman SD ku, dulu.

Setelah obrolan ringan dan cukup panjang itu, aku sampai lupa memakan siomay yang sudahku pesan. Dan jam sudah menunjukkan waktu masuk pelajaran berikutnya. Akhirnya aku hanya memakan satu sendok saja, lalu beranjak pergi menuju kelas. Tak apa. Aku cukup senang. Anggap saja ini seperti reuni kecil yang hangat. Hangat seperti dada Raisa di mataku. Maaf, maksudku hangat seperti wajah dan matanya yang teduh.

28 komentar:

  1. Topik yg cocok untuk postingan ini adalah "Dada". Haha
    Nama sd nya kampvret sekaleeh.

    Tapi keren pembawaan tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. What? kenapa 'dada'?
      sekamvret lu, nggak?

      Hmm. sudah baca, ya. Terima kasih.
      Ada quis, nih.
      Berapa jumlah kata dada dari cerpen di atas? wkwkwkwkw

      Hapus
    2. hahahha..
      Beneran dihitung, ya.
      selanjutnya, kenapa ada lima dada, ayo?

      Hapus
    3. karena ini tulisan lu, jadi serah lu deh mau 5 dada, mau 15 dada..
      SERAHH BEH..

      Hapus
  2. Iyatuh bener, inimah judulnya lebih cocokan "dada", untung aja raisanya lgsg nyodorin gir. wkwk

    Jangan kebanyakan mesumnya ah kak, gak enak._.v

    Eh, barutau, di Jepang ada yg jualan siomay. Batagor, cilok, cireng gtu ada jg gak ya? Wakakakk..
    Ini baru prkenalan nih, msh ada cerita lanjutannya gak? Misalnya mrka jadian, trs ntr LDRan gtu grgr raisanya balik lagi ke Indonesia, sdangkan Darumanya msh hrs di Jepang krna nerusin studinya.. Lah ini kenapa jd kebalik bgini, Darumanya udh ke Jepang malah raisanya balik lg ke Indonesia. Wakakakk..

    Lanjutin lagi kaak!! Seruu seruuu!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang mesum bukan gue, ya. Tapi, tokoh cerita di atas. :)

      Bisa jadi ada. hehehehe

      Insya Allah, ini cerbung. Nggak tahu, dah. Belom kepikiran akhir dari cebung ini. Atau mungkin nggak ada sambungannya.

      Hapus
  3. Pertama kali mampir ni di mari :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Nanti mampir balik, okey.

      Hapus
  4. Ini cerita apaaa?? Perkenalan dada? Duhhh darma makin-makin yaaaa.

    Di jepang ada tukang somay?? Duhh jadi pengen dada, eh somay~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kenapa banyak yang komen tentang dada.

      Iya ada siomay di sana. Siomay yang dibuat dari dadanya ikan.

      Hapus
  5. njir.. sekali bkin cerita malah mesum..

    hmmm jadi ini cerita lo sama si Siomay Rahayu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha bukan bukaan sm gue rul. Ini cerita daruma sm raisa kw.
      Aku mah apa :D

      Hapus
    2. Mesum dimananya?

      kok lu tahu, Rul?

      Eh, iya ini bukan cerita tentang yang lu maksud, Rul.

      Hapus
    3. Rahayu: kamu kan Raisa kw, Siomay..

      Darma: kalian so sweet banget ketemuan diluar negri :3

      Hapus
    4. Hahaa jadi gue Raisa kw atau siomay Rul?

      Hapus
  6. Ini perlu dikasi label 17+ gak sih? Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan. Nanti blog gue kena blockiran.

      Hapus
  7. Bokap gue jualan somay loh
    *info penting*

    Masih ada "dimeja" tuh. Kan harusnya "di meja"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. kapan kapan gue pesen mie ayam, ya.

      Hmm. perasaan gue sudah ketik dengan benar. kok berubah.

      Hapus
  8. ini di jepang apa di kebun raya bogor ada tukang somay?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm. di Jepang Jepangan.
      Kok, tahu, Iya kang siomaynya dari Bogor.

      Hapus
  9. jadi penasaran gue sama dadanya. eh mukanya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Search saja di google. Toge.
      Seperti itulah kurang lebih.

      Hapus