Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Jumat, 14 Agustus 2015

Surat Untuk Nona #7

               39 comments   
Untuk nona yang songong.

Hai nona, aku sudah menerima suratmu. Lagi, kau membuatku tersenyum saat menerima suratmu. Aku sempat tertawa kecil saat kau menyamakan diriku seperti makhluk laut. Memangnya, apakah wajahku ini terlihat ketus dan kecut, seperti Squidward? Heheheh. Tenang saja aku tidak marah. Semoga itu panggilan yang baik.

Maaf, non, untuk surat kali ini aku menambahkan title songong untukmu dipembuka surat. Aku hanya binggung saja untuk menambahkan title untukmu. Semoga surat ini tidak ditafsirkan sebagai surat balas dendam. Sudahlah. Lupakan nama dan title itu. Apalah arti sebuah nama.

Hmm. Kabarku baik. Alhamdulillah. Tapi, beberapa pekan ini aku seperti jenuh. Jenuh dengan tulis menulis. Entah apa yang membebani dan memberatkan kepalaku. Seakan aku tidak bisa menggunakan kepalaku. Sepertinya aku butuh vitamin. Bahan bacaan, misalnya.

Nona, bagaimana kabar kuliah semester pendekmu? Semoga sukses dan lancar, ya.

Oh, iya. Di surat balasanmu begitu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga aku pun tidak bisa menjawabnya. Apakah aku harus menjawab semua pertanyaanmu? Semoga tidak. Dan ada beberapa pertanyaan itu yang menurutku lucu. Iya lucu, seperti kamu dan keluargamu. Hahahaah.

Yang jelas aku selalu percaya bahwa hidupku ini hanya untuk beribadah. Karena keyakinanku itu, kepalaku berkata, bahwa aku setidaknya harus bisa bermanfaat untuk diri sendiri, dan orang lain. Sebab dengan kebermanfaatanku itu, mungkin bisa menjadi nilai ibadah untukku, orang lain, dan Sang Pembalas. Walau kadang aku malu. Kadang aku masih melakukan dosa dan khilaf.

Nona, aku masih punya PR besar dari guruku. Beliau bilang “kejarlah matahari, sebab bayangan pasti akan mengikutimu. Tidak sebaliknya. Jika kau mengejar bayangan kau akan jauh dari matahari” Entah apa maksud guruku. Yang jelas mengejar matahari juga mungkin tidak kalah lelahnya dengan mengejar bayangan. Apalagi kalau tidak ada yang menemani. Mungkin terasa sulit.

Tapi, kemarin aku menemukan sedikit jawaban. Saat aku pulang, aku satu angkot dengan seorang wanita. Aku lihat wajah dan matanya, dia terlihat teduh. Sepertinya usiaku dengannya tidak tepaut jauh. Saat ku lihat dia, awalnya aku kira wanita itu gila. Dia terus saja menggerakkan bibirnya. Aku pikir dia butuh kecupan di bibir. Bibirnya mangap-mangap, komat-kamit seperti ikan cupang.

Aku mulai menurunkan pandanganku menuju bagian dadanya. Sudahlah lewatkan bagian dada. Aku menurunkan kembali pandanganku ke bagian tangan dan jarinya. Ibu jarinya berpindah-pindah gerak menempati gerat-gerat yang ada di jari-jari lainnya. Sepertinya aku tidak asing dengan gerakan jari itu. Iya, aku tahu gerakan ibu jari dan jari-jarinya itu. Akhirnya aku tahu jawaban dari gerak bibirnya. Ternyata dia mangap-mangap bukan minta kecupan. Tapi, ternyata sepanjang perjalanan dia bertasbih dan bertahmid.

Diriku langsung malu saat melihat itu. Aku seakan ditegur. Dialah wanita teduh yang mungkin bisa menemaniku untuk mengejar matahari. Aku harus mencari wanita seperti dia. Wanita teduh. Entah kapan aku bisa betemu dengannya lagi. Atau menemukan yang sejenis dengannya.

Nona, apakah kau punya kenalan wanita teduh seperti itu? Hahahaha. Tidak perlu dijawab. Mungkin, ini pertayaan ngacoku. 

Hmm. Nona, mungkin sekian dulu suratku kali ini. Aku selalu bingung untuk membuat pembuka dan penutup surat. Oh, iya, non. Salam untuk keluargamu. Semoga kamu dan keluarga sehat selalu.

See you ~


Salam hangat


Seorang Hamba

39 komentar:

  1. Hahaaa dasar laki-laki. Ngeliat cewek, langsung mandang ke bagian dada nya.
    -__-

    OKEE GUE TAU SEKARANG SIAPA NONA ITU DAR.. AHHAAAHAA
    GUE TAU !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belajar dari Ari Laso.
      sentuhlah ia tepat dihatinya ~

      hati itu deket deket dada, kan?


      ssttt... Jangan berisik.
      Nanti ketahuan yang lain.

      Hapus
    2. Nah tuh kan, disentuh dar,, disentuh. Jangan dipandang doang. -_-

      aha
      ada syaratnya?

      Hapus
    3. Oh iya disentuh, ya. bukan dipandang dong.

      Syaratnya apa?
      Awas saja kalau ember.

      Hapus
    4. hahaa.. noh langsung paham deh lu

      Buatkan saya seribu candi. simple.

      Hapus
    5. Masyarakat. Seribu candi?

      Ampun Raisa Jonggrang.
      Ini aku kasih buku catatan dari Putra plus siomay dan gir tamiya punyaku.

      Hapus
    6. hahaaa
      kenape bawa bawa catatan putra? -_-'

      ooohhh kamu mau nyogok saya ya? kamu kira dgn kamu memberi catatan putra,siomay dan gir tamiya, aku mau menutup rahasia mu?

      HUUAHAAHAA
      TIDAK SEMUDAH ITU GAES!

      Hapus
    7. Siapa tahu catatan Putra dan plus plus lain bisa menutupi seribu candi yang lu pinta.

      Hah? Nyodok? Nyodok apa?

      Eh. sogok, ya, maksudnya.
      Nggak nyogok, kok.
      Abis itu syaratnya. Masa bikin seribu candi.
      kenapa nggak sekalian bikin rumah saja.


      Rumahtangga kita.

      Hapus
    8. Enggak. Enggak akan bisa wahai anak muda.

      NYODOK ANU!

      Nyogok maksud gueh. -_-

      Bikin candi dulu, baru rumahtangga kita.
      gimana?

      Hapus
    9. Kenapa tidak bisa, anak tua?
      Itu tawaran lebih baik dari seribu candi, bukan?

      Hmm. Seribu candi, ya?
      Ngasih syarat apa mau ngebunuh gue?
      Lemparkan saja girmu ke kepalaku.

      Hapus
    10. Tidak ada apaun yang bisa menggantikan syarat untk membangun seribu candi. Huahaaa


      Iyaa itu cara gue secara perlahan2 untuk membunuh eluu. Wkakaa

      Hapus
    11. *Buru-buru bikin 1 candi. Terus jedotin kepala gue sendiri ke candi yang udah gue bikin. Dan akhirnya gue jadi arwah penasaran

      Hapus
  2. udah surat ke-7 nih, makin penasaran saja nona itu siapa?

    BalasHapus
  3. btw ini surat udah episode yg keberapa ya? rajin bener balas-balasan surat bang:D
    awalnya bacanya serius, tapi pasti ada part2 yang bikin ngakak, dadanya! hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Episode tujuh. Itu ada tandanya.

      Hei hei hei. Ini memang surat serius. Cuma nggak sampai tahap sakral. :p

      Hapus
  4. Wuih si Wulan udah tahu aja siapa nonanya. Gue belum. :))
    Cari doong yang adem adem gitu dar. Hueheuheuehu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan ikut campur kau senpai.

      Iya. Adem dan teduh gitu.
      Sejenis peranakan pohon beringin yang dikasih pupuk ademsari.
      Seadem dan seteduh itu hasilnya.

      Hapus
    2. HUUAHAHAAAA

      Bang Adi mau tau siapa?
      Huahahaaa

      Hapus
    3. yang benar itu Aziz, ah kalian masa gitu.

      Bener tuh kata Wulan. Bukan itu, Yog.

      Hapus
    4. Ada yg manggil Azizah.. hmm pantas aja beberapa hari ini kentut gajelas

      Hapus
  5. Eehhh.. kok ini udh nyampe 7 ajasih?? Ah gak afdhol klo blm baca dri yg pertama. Jd yg ini blm aku baca. wkwk. Otw baca dri 1 dlu yak, baru ntar balik lg komen. wakakak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.
      Rada nggaknyambuk kok suratnya.

      Hapus
  6. Gue gak bakal ngejar matahari
    Soalnya PANAS Dar PANAS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, lebih panas lagi kalo liat gebetan jalan sama orang lain. :(

      Hapus
  7. selalu saja penasaran sama si nona itu siapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Silakan tanya pada rumput yang sedang bergoyang dumang.

      Hapus
  8. Aku kira nona itu pacar kamu ternyata bukan yaa, lah terus siapa dong? Apakah kalo aku baca surat ini dari awal aku bakal tau siapa si 'nona' itu? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bukan lah.
      Si nona sudah berumahtangga.
      Kirim surat ke nona soalnya tuan mau cerita aj.

      Silakan baca. Tapi, itu nggak akan nyambung-nyambung amat. Wkwkwk

      Hapus
  9. Kapan-kapan gue mau nulis surat untuk nona juga, ah.

    Nanti isi suratnya, "Kenapa mau-maunya gitu surat-suratan sama si Darma?"

    Masya Allah, di angkot dia selalu ingat Tuhan. Mungkin karena angkot suka ugal-ugalan. Terus dia mencoba untuk memberikan keselamatan untuk seluruh penumpang. Tuh, Dar. Contoh itu. Bukannya malah nonton film One Piece dari hape. Eh, ini mah gue.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu cewe teduh nyebut, mungkin, karena gue liatin dia.
      Dikira gue mau merkosa kali. Bukan karena angkotnya ugal ugalan.

      Hapus
  10. Jangan dikejar Dar mataharinya, kalo dekat langsung meleleh loh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo melelehnya bersama nona, nggak apa, kok. :p

      Hapus