Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Rabu, 30 September 2015

Hari Minggu Terakhir di Bulan September

Setelah lihat-lihat dan baca ulasan dari Yoga tentang kegiatan hari Minggu 27 September 2015 lalu, gue juga mau ngikut ceritain kegitan yang sama. Tapi, dalam versi gue. Hohohohoh. Semoga kalian nggak bosen bacanya. Heheheheh. Iya, hitung-hitung gue update tulisan di blog gue. :p Bodo amat. Suka-suka gue. Blog blog gue mau apa lu? Uweek. :p

Sudah hampir dua bulan, gue tidak bersua bersama teman-teman Blogger Jabodetabok. Bulan Agustus kemarin kami tidak kumpul-kumpul sama sekali. Kami sudah melanggar peraturan nomer seribu untuk bisa kumpul bareng tiap bulannya. Minimal satu kali dalam sebulan. Sampai akhirnya memasuki penghujung bulan September. Di Jakarta, seperti bulan lainnya, bulan September ini banyak event untuk para blogger. Beberapa teman Blogger Jabodetabok sudah pada kumpul-kumpul. Tapi, gue nggak ikut. Selain sibuk (preet), juga karena gue nggak dapat undangan eventnya. Sedih. Maklumlah masih blogger amatiran.

Bulan September ini niat awal kumpul tadinya mau di daerah Puncak. Tapi, malah nggak ada kelanjutannya. Yaudin, sampai akhirnya Yoga iseng doang ngajakin kita kumpul di acara Hari Komunitas Nasional yang laksanakan di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan. Meski yang respon sedikit tapi, tetap kita usahakan ketemuan. Hitung-hitung melepas penat akan hiruk pikuknya Ibukota bisa bertemu teman-teman jauh dan ngobrol berbagi cerita itu sudah sebuah kenikmatan dan keindahan tersediri. Melepas kangen serta rindu yang sudah membuncah dalam jiwa yang tak terbendung.

Lanjut kecerita. Awal janjian, gue minta untuk meet point jam 10 di St.Manggarai. Empat orang itu termasuk gue (Nurul, Karin, Yoga, dan gue) mengiyakan untuk meet point tersebut. Sampai akhirnya Nurul mulai bawel gitu di grup. Seakan dia galau mau pergi. Padahal satu jam lagi sudah mau jam 10. Gue juga salah, sih, jam sembilan masih di rumah. Tapi, kan, rumah gue dekat dengan st.Manggarai. Bahkan yang lain yang rumahnya jauh (Nurul, Karin, Yoga), mereka semua juga belum berangkat. Kampret. Batin gue ngedumel.

Pukul 09:15, gue akhirnya berangkat dari rumah. Karena belum sarapan gue mampir dulu beli jus alpukat dan makan bubur ayam. Hohohoho. Dan lagi-lagi di grup mulai pada bertanya-tanya. Gue iseng saja kirim gambar st.Manggarai, sambil bilang ini st.Manggarai. Padahal gue lagi nikmat-nikmatnya makan bubur ayam.

“Bang Dar, sudah di Manggarai,” tanya Nurul dalam grup.
Belum, ini gue baru otw. Hohohohoh. Kalau pada nggak jadi bilang, ya,” balas gue.

Sampai di Manggarai. Dari keempat orang itu, gue orang pertama yang sampai di Manggarai. Dan yang lain baru pada berangkat. Satu jam menunggu sambil di temanin SMS dengan Wulan, grup WA mulai ramai kembali. Tenyata Nurul, Karin, dan Yoga, secara kebetulan mereka naik satu kereta yang sama. Kereta yang pemberhentian terakhirnya di Depok. Dan supaya mereka nggak naik turun, gue diminta untuk naik kereta yang mereka naiki saat itu. Toh, st.Tebet itu satu jalur dengan kereta ke st.Depok. Lepas membaca pesan itu gue langsung buru-buru lari naik dan masuk ke kereta jalur enam. Kereta pemberhentian Bogor yang melewati Depok. Namun, ternyata kereta mereka masih belum sampai ke Maggarai. Dan kereta mereka masih berada di satu kereta di belakang kereta yang gue naiki di jalur enam. Baru mau turun biar bisa bareng dengan mereka, eh, kereta jalur enam yang gue naiki sudah terlanjur jalan. Yaudin, akhirnya meet pointnya di st.Tebet saja.

***

Setelah kumpul di st.Tebet dan keluar dari stasiun, kami langsung naik mikrolet biru muda nomer 44. Di dalam mikrolet mulai ngobrol-ngobrol sedikit tentang kegiatan sebulan dan seminggu terakhir. Bahas tentang lomba blog dan fotografi lewat hp. “Bilang ke supir turun di Mall Kokas, Dar,” pinta Yoga ke gue. Karena gue jaim nggak mau ngobrol sama kang supirnya, gue langsung tanya sama Nuri yang hari sebelumnya sudah pernah ke sana.

“Ini katanya di sebelah kanan. Gedung kaca biru,” balas gue ke Yoga sambil nunjukin layar hp. Niatnya mau pamer hp baru gue. Hohohohoh.
“Sebelah kanan mana? Patokannya apa?” tanya Yoga lagi.
“Itu sebelah situ ada tulisannya kelihatan,” sambung Karim sambil nunjuk ke arah depan mobil.

***

Sertibanya di tempat, gue kira ini sejenis kantor ternyata ini mall. Hohohoho. Norak banget gue, nggak bisa bedain mana mall dan kantor. Pas masuk kedalam berasa banget ini mall gede banget. Kalau ditinggal sendiri di dalam, gue juga bakal nyasar nggak bisa pulang.

Setelah mendapat informasi dari Nuri, kami disuruh naik ke lantai dua. Tanpa pikir, kami langsung cari eskalator dan menuju lantai dua. Sampai di lantai dua kami malah binggung. Ini dimana, ya? Kenapa masuk ke Galeri ATM? Mana tempat acaranya? Entah lupa atau karena tidak tahu. Setelah keliling-keliling di lantai dua, akhirnya kita bertanya kepada pak security. Setelah mendapat pentunjuk, arahan, dan instruksi dari pak security, kami langsung pergi ke lantai tiga.

Lepas keluar dari eskalator yang mengantarkan kami ke lantai tiga, kami di hadapkan pada sebuah ruang. Ruang yang di hampiri oleh banyak orang-orang mall yang berbondong-bondong menuju ke dalam tempat itu. Kami berpikir kalau di dalam sana acara HKN itu digelar. Begitu saat di depan ruangan itu dan di periksa petugas, tiba-tiba kami tidak diizinkan masuk. Dan pertugasnya bertanya kami ini mau kemana. Kami pun menjelaskan maksud dan tujuan kami. Kalau kami ini ingin mengebom mall terlaknak ini. Enggak, deng. Kami jelaskan secara jujur dengan ekspresi mata nanar dan wajah memelas dan suara mendesah agar kami bisa masuk.

Dan ternyata kami salah naik eskalator lantai tiga. Eskalator yang mengantarkan kami ke lantai tiga itu adalah ekslator menuju gereja, sedangkan eskalator lantai tiga yang benar menuju acara HKN itu ada di seberang dari kami berdiri. Mungkin pejaganya heran, rombongan kami ada yang berhijab dan mau masuk geraja. Akhirnya penjaga itu memastikan kami mau kemana. Terima kasih Tuhan. Engkau masih membimbing kami.

***

Setelah naik eskalator yang benar, akhirnya kita sampai di acara HKN2015. Luar biasa, depan pintu masuk sudah ada karpet merah yang mengarahkan kami untuk masuk ke dalam. Baru kali ini gue berjalan di atas karpet merah. Gue merasa tingkat kegantengan gue bertambah lima persen saat jalan di atas karpet merah. Belum juga masuk, kami sudah disambut oleh beberapa orang yang sedang mencari masa. Mulai dari volentir sosial sampai pegiat peduli politik. Usai sedikit basa basi dengan mereka, kami langsung foto-foto di depan banner HKN2015.

A photo posted by Darma Kusumah (@kusumah_darma) on


Secara pribadi, mungkin karena guenya yang kurang aware, gue menganggap kalau acaranya itu kurang seru. Selain karena tempatnya yang kurang luas, juga karena komunitasnya kurang menarik minat gue. Mungkin salah gue juga yang jaim sama penunggu-penunggu stand komunitas. Gue tidak banyak tanya kepada mereka. Padahal cukup banyak juga komunitas yang bisa bikin gue jadi pintar. Seperti komunitas batik, komunitas sejarah Indonesia, Komunitas fotografi, Komunitas ipek yang bisa bikin alat nonton chanel tv luar negeri, komunitas musik, dan beberapa komunitas lainnya.

Karena tidak ingin sia-sia pergi ke sina, kami pun mantengin berdiri di komunitas remaja batik Indonesia. Sampai akhirnya penunggu standnya mengajak kami untuk ikutan ngebatik. Kami kecuali gue, akhirnya ikut ngebatik. Lu kenapa nggak ikut ngebatik, Dar? Sebenarnya mau ikut, tapi, anehnya kenapa kepala gue malah geleng-geleng pas ditanya sama mas mas gantengnya. :( Sambil menunggu teman yang lain selesai ngebatik gue iseng- iseng saja ambil gambar mereka dan peserta lainnya yang sedang ngebatik.

Selesai itu kami pun keluar sebentar untuk isoma (istirahat, solat, dan makan). Gue lihat handphone ternyata ada pesan masuk dari Dicky. Dia ngabarin kalau sudah sampai dan sedang di lantai dasar. Gue langsung nelpon dia dan mengabarkan untuk ketemuan di musalah atau masjid saja. Yoga dan Karin juga mengabarkan kalau nanti akan ada Adi dan Ucup yang mau datang juga. Ternyata sedikit demi sedikit kami mulai ngumpul banyak, dan bisa daftar komunitas baru di acara HKN tahun ini. Saat hendak ke bawah mau ke Masjid kami bertemu Dicky dan dia ikut ke dalam barisan kami. Hohohohoh. Menurut kalian kira-kira kalau kami kumpul dan bikin komunitas, lebih baik bikin komunitas apa, ya?

A photo posted by Darma Kusumah (@kusumah_darma) on


Siap salat, kami cari makan dan istirahat sejenak. Siang itu memang gue sedang lapar banget. Yang biasaya gue jalan selalu jauh di depan mereka, kini gue jalan di barisan paling belakang. Aneh. Kadang setiap gue jalan selalu saja gue dibarisan depan. Entah jalan gue yang terlalu bersemangat dan terlalu cepat. Atau jalan mereka yang lambat kaya keong. Keong racun. Siang itu gue di tegur Nurul, katanya gue dari tadi lemes, dan diem terus. Gue bilang saja kalau gue lagi laper. Akhirnya Dicky memimpin barisan keliling-keliling lantai LG melewati puluhan jajaran dan jejeran tempat makan. Sudah jauh-jauh berjalan dan jauh-jauh pergi ke mall super gede ini ujung-ujungnya kami malah singgah di toko ayam. “Yang begini di depan kampus gue juga ada. Hohohoh,” sahut Nurul ke gue.

Sambil menunggu kang bersih-bersih toko ayam tuk bersihin meja kami, gue makan setengah piring kentang sisa orang makan di meja tersebut dan minum susu coklat yang ada di sana juga. Gue tawarin mereka, mereka pada jaim-jaim banget. Hohohohoh. Belum habis semua kentang gue lahap, Paber (cowonya Nurul) bawa mas-mas toko ayam tuk bersihin meja kami. Karena antriannya ramai bet, setelahnya kami berunding dan mengundi siapa yang akan dijadikan tukang antri yang memesan pesanan kami. Kami pun gambreng dan ternyata gue sama Nurul yang harus antri. Rada mager juga tapi, ini kesempatan emas buat gue ngedeketin Nurul. Hohohohoh. Namun, karena gue menghormati Paber mending mereka berdua saja yang pesan dan antar makanan kami.

Siap makan siang, kami ngobrol-ngobrol sebentar dan foto-foto. Bahas tempat wisata yang enak di Puncak untuk nanti kumpul berikutnya di Puncak. Tiba-tiba Karin mengabarkan kalau Uni dan Nuri ada di atas. Yaudin, kita balik lagi ke atas. Gue sudah rada bosen sebenarnya. Wong acaranya cuma gitu-gitu doang. Tapi, karena masih mau kumpul sama mereka sampai pulang malem pun gue rela. Dalam perlajanan menuju ke atas di sini banyak banget paha gratisan mulai dari paha local sampai paha mancanegara.

Yog, Itu bule cakep, ya. Nafsu gue lihatnya,” ucap gue.
“Tinggi banget itu bule. Lu mau diketekin sama dia. Terus kalau ciuman susah tahu. Lu kalah tinggi,”balas Yoga jujur.

Setelah sampai di atas kami akhirnya bertemu dengan Uni dan Nuri, ngobrol-ngobrol dan foto-foto. Pergi ke toilet dan keluar masuk ke acara sambil menunggu yang lain pada datang juga. Setelah lama menunggu akhirnya Ucup dan Adi datang dan bertemu kami di dalam. Terus foto-foto lagi, deh. Ngobrol-ngobrol lagi sampai jam setengah lima-an. Kami pun ke bawah lagi ke lantai LG, kali ini istirahat dan salat Asar. Gue ngerasa kami pergi ke mall cuma numpang salat doang. Hohohohoh. Sampai di bawah kami istirahat sampai masuk waktu Magrib. Tidak lama setelah itu kami bertemu Reza dan kembali lagi ke atas. Ini, mah, pegal bolak-balik ke atas ke bawah. Kan, lebih enak pegal keluar masukin anu.

Pas sampai di lantai dua ternyata sudah pada bubaran. Uni, Nuri, Adi, dan Ucup sudah turun di lantai dua. Kami bertemu mereka pas banget di tangga turun dari lantai tiga ke lantai dua. Sebenarnya masih ada beberapa stand yang masih buka. Namun, Uni mengajak kami untuk pergi dan makan di UKM lantai LG. Sambil ngobrolin projek besar, katanya. Ternyata projek besar itu adalah kami diminta Uni untuk bikin buku. Sejenis buku antologi, kumpulan cerita gitu. Untuk urusan penebit dan editor itu masalah gampang, kata Uni memotivasi. Di tengah-tengah pembicaraan datang lagi teman kami. Bela. Dia datang ingin bertemu Uni dan Nuri. Dengan teliti, kami hanya mendengarkan dengan hikmat akan amanah dan permintaan Uni tersebut. Setelah ngobrol-ngobrol sampai jam delapan akhirnya kami pulang.

***

Pulang saat tiba di st,Tebet, kami berpisah dengan Uni. Uni pulang ke arah st.Bogor naik dari peron nomer dua. Sedangkan kami (Yoga, Karin, Nurul, Paber, Bela, dan Gue) pulang ke arah st.Manggarai dan st.Tanah Abang di peron nomer satu. Dan yang lain (Adi, Reza, Dicky, dan Ucup) pulang naik motor. Di st.Tebet, kami lama nungguin Yoga yang bermasalah dengan kartu Flashnya. Gegayaan banget itu anak, biasa juga naik kereta pakai tiket harian berbayar (THB). Lama menunggu Yoga dari sebrang palang gardu masuk, kereta jurusan Bogor akhirnya tiba dan Uni pamit duluan. Bertepatan saat Yoga masuk kereta yang lewat st.Tanah Abang pun tiba. Dia pun cerita-cerita sedikit kalau kartu Flashnya belum diaktifkan untuk naik kereta dan saldo minimumnya tidak mencukupi. Saat kami lagi buru-buru mau naik kereta di peron satu, tiba-tiba Yoga izin mau ke toilet. Kami pun menunggu Yoga dengan penuh cemas dan galau. Antara mau meninggalkan Yoga atau menunggu sampai dia selesai pipis. Sampai akhirnya keretanya mau berangkat dan Yoga belum kembali menyusul kami. Kereta pun meninggalkan kami. Dan kami harus menunggu kereta berikutnya. Dasar Yoga kampret, kami jadi makin malam pulangnya.

Selang beberapa menit kemudian kereta pemberhentian st.Jatinegara tiba. Beberapa dari kami mulai ada yang berdebat, bertanya-tanya apakah kereta ini benar melewati st.Tanah Abang. Ada yang menjawab iya, dan ada yang ragu dan takut salah naik. Karena nggak mau lama menunggu lagi tanpa pikir panjang kami naik kereta tersebut. Dan melanjutkan perdebatan di dalam kereta. Kalau gue, sih, bodo amat. Toh, gue turun di st.Manggarai. Beda satu stasiun dari st.Tebet. 

Masuk ke st.Manggarai, gue siap-siap berdiri pamit ke mereka semua dan turun. Melanjutkan naik kereta di jalur lain menuju st.Klender. Semoga saja mereka tidak salah naik kereta dan turun tepat di st.Tanah Abang.

Sudah, ya, segitu saja cerita gue kali ini. Maaf kalau tidak jelas akhir ceritanya. Dan maaf juga kalau kepanjangan. Hohohohoho. Terima kasih untuk kalian yang sudah baca tulisan ini sampai selesai. Daadaaaa. See you ~

15 komentar:

  1. Yees pertamax. Sebelum diambil Darma.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dasar lu, masih sempatnya makan bubur ayam. Pake jus alpukat segala lagi. Huh.

      Hahaa apa banget ngomong ke security pake mendesah segala. Hahahaa.
      Eh iya, lu kenapa nggak ikut ngebatik sih? Gue juga mau tanya itu dari kemarin.
      Toko ayam maksudnya apa beh? Toko jualin ayam ayam?

      Hahahaaa oh gitu cerita yg Yoga ke toilet. Gegara Yoga yg lain harus nunggu kereta berikutnya.

      Hapus
    2. Hari itu, kan, jadwal sarapan sama bubur dan jus. :p
      Suaranya Nurul mendesah tahu. :p

      Hmm. Itu, kan, sudah gue jawab di atas. Gue nggak kuku lihat abang ganteng. Jadi antara otak dan gelengan kepala nggak sinkron gitu.

      Iya, toko ayam. Kemarin kita jajan ayam hidup-hidup terus dimakan.

      Memang bawa apes itu anak. Hohohohoh.

      Hapus
    3. Hahaa trus kenapa nggak nawarin gue hah?
      Suara lu mendesah pas ngomong ke security.

      Oh gitu. Lu naksir abang ganteng itu?

      SERIUUUSS DONG. Toko ayam maksudnya apa? mie ayam atau ayam diapain?

      Yoga apes gegara deket-deket sama lu, :P

      Hapus
    4. Lu mau? Yaudin, nanti gue sisain mangkoknya dan sedotannya juga. :p

      Naksir, sih, nggak. Cuma bikin jantung bergetar-getar.

      Maksudnya itu AyAm Love U

      Apes?
      Planet of the Apes, maksudnya?
      Lu ngatain gue, hah?

      Hapus
    5. Iya. Nggak apa-apa walaupun cuma mangkok dan sedotannya. Gue sabar. :P

      Wow. Jantung dekat dada. Berarti dada lu iktan bergetar dong.
      Hahahahaaa sa ae lu.

      Iya, kenapa? Berantem aja yuk.

      Hapus
  2. Oh, jadi niatnya gue mau ditinggal? Hmmm. :))

    Bukan jaim, tapi males bekas orang yang nggak dikenal. Kalo dia penyakitan gimana? :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Tapi, karena SK. Nggak jadi, deh.

      Kan, tinggal berobat.
      *kok, gue ngegampangin, ya. :(

      Hapus
  3. Weeits, kalo ini diambil dari sudut pandangnya kak Darma ternyata.. Lengkap juga yak.. Aku liat tuh yg pas ngirim poto lg di manggarai, kirain udh di manggarai beneran, ehh rupanya lagi makan bubur! Somvret bener tuh. Haha.

    Wakakak, parah, bisa nyasar ke gereja gtu. Untung banyak yg pake jilbab tuh, kalo enggak bisa2 security nya ngizinin aja pasti.

    Hmm.. Acaranya gak seru2 amat ya?? Jauh2 dateng makannya ayam ditepungin lagi, bosen jg ya? Tp gak ada pilihan lain lg sih..

    Btw, itu percakapan ka darma sama ka yoga sempet2nya ngomongin bule, pake bilang nafsu sgala, udh gtu dijelasin susah ciumannya lagi :') Sungguh kalian pasangan yg serasi! Serasi mesumnya! Wakakak._.v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha. Habis pada galau mau berangkat. Bikin rusuh saja sedikit.

      Entah kenapa nyasar. Mungkin kita gagal paham sama petunjuk securitynya.

      Pilihan, mah, banyak Lu. Cuma secara pribadi dompet gue bilang kalau saat itu lagi akhir bulan. Jadi, kemarin cuma ngeluarin ceban doang. :(
      Lumayan buat ganjal perut.

      Hehehe. Itu bule memang tinggi banget. Ke mall cuma pakai baju Yoga. Kan, bikin kebentuk dada paha dan lainnya. Terus udelnya kemana-mana lagi.

      Hapus
  4. Alhamdulillah akhirnya kesampean juga mampir di blog antum akh darma :P
    Maaf ya belum bisa ikut kemarin karna jadwal kerja ini .. :((
    oh ya udah di follow blognya ya :))

    BalasHapus
  5. Hahahahahahahaha. Di postingan Yoga gak ada tuh tentang bule-bulenya, dasar Yoga jaiman juga ternyata, gak mau ketahuan kalau dia takut pacaran sama bule karena kalah tinggi.

    Tumben juga nulis panjang-panjang, Dar. Eh, tapi gapapa sih. Aku suka yang panjang-panjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohohoh. Kita sudah kingkongan.
      Gue hanya melengkapi cerita Yoga.

      Iya, akhirnya bisa nulis panjang juga. Hohhohoho.
      Anuku panjang, loh. Mau?

      Hapus