Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sabtu, 12 September 2015

Surat Untuk Nona #8

Halo Nona Nay. :)
Apa kabarmu? Semoga sehat selalu.

Iya. Sudah hampir dua Minggu aku menunggu surat balasan darimu. Setiap pulang dari aktivitas keseharianku, aku selalu mampir ke teras rumah. Melihat dan memeriksa isi kotak surat rumahku. Setiap aku tengok kotak tua itu selalu saja tidak ada surat dan kabar darimu. Hanya ada surat lain dari layanan asuransiku yang kini sudah menumpuk di meja ruang tengah.

Aku sempat khawatir dan galau. Aku kira kamu sudah lupa denganku. Sempat terpikir olehku untuk mengabarkan surat lainnya untukmu. Tapi, niat mengirimkan surat lainnya untukmu, aku batalkan. Aku hanya takut dinilai cerewet olehmu. Dan takut juga mengganggu kesibukkanmu. Kegelisahanku menanti surat balasan darimu sudah aku ceritakan kepada gadis teduhku. Ia selalu menenangkanku dan mengatakan, 'mungkin nona sedang sibuk, bersabar lah!'. Ucapnya selalu begitu.

Nona, aku baru saja mendapatkan gadis teduhku. Saking teduh kantung matanya terlihat teduh seperti bayangan pohon petai yang terbentuk dari sinar matahari. Teduh dan sejuk. Kenapa pohon petai? Iya, Nona. Gadis teduhku ini dia suka sekali petai. Bahkan dia juga suka dengan jengkol.

Nona, apakah kamu suka juga dengan petai dan jengkol?

Oh, iya. Maaf tawaranmu mengenai lelaki teduh sepertinya aku tolak. Selain karena aku sudah mendapatkan gadis teduh. Aku juga menebak bahwa lelaki teduh itu Paber, kan? Tidak, Nona. Terima kasih. Lelaki teduh itu untukmu saja. Aku sudah cukup dan bersyukur dengan gadis teduhku ini. Dia datang dari masa depan. Dia gadis teduhku, Non. Waktunya lebih cepat satu Minggu dari waktuku. Itu alamat yang dia tulis di gubuk mayanya, Non. Kamu pasti kenal dengan gadis teduhku ini, Non.

Nona, ternyata liburanmu cukup menyibukkanmu, ya. Aku membayangkan kamu yang kerepotan dengan membagi waktumu untuk kuliah semester pendekmu, dan membuat waktu untuk mengurus keluarga barumu. Btw, bagaimana kabar kerluargamu? Ran dan Run itu? Semoga mereka akur, ya. Dan tidak rebutan makan biskuit Whiskas.

Untuk liburanku, aku lebih banyak berleha lehanya, Non. Menghabiskan waktuku dengan tumbukan PR di rumahku. Tumbukan buku di rumah yang belum sempat aku baca habis. Serta jejeran dan jajaran stok film di netbook. Aku belum sempat melahapnya semua. Itulah pr pr ku. Liburanku habis dengan mereka saja. Benda benda sialan itu.

Nona, ada sesuatu hal yang mengganjal dalam diriku. Sudah lama kita tidak bertemu. Bermain di alun-alun bersama seperti dulu. Kapan kita bisa bermain lagi di alun-alun kota, Non?


Salam meong

Seorang Hamba


Surat Untuk Nona
Surat Untuk Nona #8

27 komentar:

  1. Hahaa mungkin gadis teduh lu keturunan kangguru. Sampe punya kantung mata segala.
    Lu enggak usah sok-sok nolak di tawarin lelaki teduh oleh Nona. Terima aja kali tawarannya.

    Gue bener bener khawatir pas lu ngetik kata '' berleha-leha '' itu. Takut lu typo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya bukan kangguru. Tapi, keturunan kang plastik pasar.

      Sengaja gue tolak. Soalnya, gue sudah tidak memberikan kesempatan kedua pada lelaki teduh itu.

      Tuh, kan. Lu mesum, ya.
      Itu berleha leha, ya. Bukan berbeha beha.
      Dasar gadis mesum.

      Hapus
    2. Hahahaaa kenapa bawa bawa kang plastik pasar?

      Dih kejam, jahat. Semua orang itu berhak mendapatkan kesempatan kedua.

      HAHAAHAAAAA
      Enggak gitu. Gue khawatir karena gue tau lu itu mesum. :P

      Hapus
  2. Gadis teduh yg suka petai dan jengkol, hal yg langka ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dia memang langka. Dan harus dilestarikan.

      Hapus
  3. Paber?
    Kaya nama panggilan cowo'a NuChan nih

    BalasHapus
  4. Gadis teduhnya gaul. Demen petai sama jengkol.
    Curiga gadis teduhnya ini pak SBY. Habis, kantung matanya.... Nggg....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan gaul. Tapi, dia salah gaul.
      Kenapa pak SBY. Memang nggak ada bapak-bapak yang lain, ya?

      Hapus
  5. Masih aje surat-suratan. Email dong!
    Gadis teduh siapa lagi? Wulan? :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Email juga surat. Surat elektronik.
      Bukan, tapi RIma, Yog. :p

      Hapus
  6. wah suka petai dan jengkol.. yang pada deketin langsung pingsan.. heheheh

    BalasHapus
  7. Tumbukan PR. Lucu, PR nya gak dikerjain, tapi ditumbuk :D

    Suratnya udah nyampe yang ke 8 aja. Gak ngikutin dari awal akunya. Ntar deh, pas kamu bikin postingan judulnya 'Surat Untuk Wulan', aku ikutin. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaaa iya Cha, surat tagihan hutang ntar yang untuk aku :D

      Hapus
    2. Itu typo.
      Bukan tumbuk, tapi tumpuk.
      *typonya jauh banget B dengan P jaraknya kan jauh.


      Hmm. No Comment.

      Hapus
  8. Oohh.. Jd nona nya Kak Nurul dan Tuan Octopus itu kak Darma? Wahh.. Baru ngeh nih aku skrg. Haha. Kabar run baek2 aja kok katanya, "meoonnggg" tuh, kata si run gtu..
    Hmm.. Gadis teduh.. Bawa2 payung gak tuh kira2? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheehe. Seperti itulah.
      Itu Run mengeongnya begitu.
      Hmmm. Gue rasa itu artinya bukan baik-baik saja. Entah.

      Gadis teduhnya nggak suka bawa payung. Dia lebih suka hujan hujanan.

      Hapus
  9. Waaaah gue tahu nih siapa nona itu ternyata gara-gara ada si kucing Ran dan Run. Yuhuuuu! \:p/

    BalasHapus
  10. Mungkin si nona muda lagi kehabisan perangko, jadi nggak bisa membalas suratmu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi.
      Perangko sekarang sudah mulai langka.

      Hapus
  11. gadis teduh itu suka petai dan jengkol? andai dia jadi gadis teduhku

    BalasHapus